Sabtu, 31 Oktober 2026

Banjir Bengawan Solo Ancam Lima Kabupaten di Jatim, BPBD Gelar Simulasi

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
BANJIR BOJONEGORO Ilustrasi - Foto udara kondisi banjir merendam permukiman warga di sekitar Sungai Bengawan Solo, Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (11/3/2024). Foto: Antara

Pemprov Jatim memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman banjir di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo.

Upaya tersebut dilakukan bersama lima pemerintah kabupaten melalui simulasi penanganan bencana lintas wilayah untuk menguji koordinasi, pembagian tugas, hingga kesiapan sumber daya saat kondisi darurat.

Kelima kabupaten yang terlibat yakni Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik. Wilayah tersebut menjadi perhatian karena berada di kawasan DAS Bengawan Solo yang memiliki riwayat kejadian banjir.

Dadang Iqwandy Analis Kebencanaan Ahli Madya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mengatakan, kecepatan merespons peringatan dini menjadi salah satu faktor penting untuk mengurangi risiko bencana.

“Simulasi menjadi bagian dari penyempurnaan Rencana Kontingensi (Renkon) Banjir Bengawan Solo yang disusun sejak awal 2026 dengan mengintegrasikan Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD),” kata Dadang di Gresik, Sabtu (31/10/2026).

Berdasarkan data BPBD Jawa Timur, sepanjang 2016-2025 tercatat 2.253 kejadian banjir dari total 18.119 kejadian bencana di Jawa Timur.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 393 kejadian banjir berlangsung di kawasan DAS Bengawan Solo.

Dadang menjelaskan, penanganan banjir di kawasan tersebut tidak bisa dilakukan secara terpisah oleh masing-masing daerah.

Dilansir dari Antara, diperlukan koordinasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten, terutama karena pengelolaan infrastruktur sungai menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Penguatan koordinasi tersebut diuji melalui simulasi Tactical Floor Game (TFG) yang melibatkan BPBD Provinsi Jawa Timur dan lima kabupaten.

Kegiatan ini dirancang untuk memastikan setiap daerah memahami peran dan tanggung jawabnya ketika menghadapi ancaman banjir yang berdampak lintas wilayah.

Mambaus Suud Manajer Program dan Kemitraan SIAP SIAGA Jawa Timur mengatakan, simulasi tersebut digunakan untuk menguji kesiapan operasional sekaligus memastikan skenario penanganan bencana sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Simulasi yang kami lakukan untuk menguji koordinasi penanganan banjir lintas wilayah, kejelasan peran dan tanggung jawab masing-masing kabupaten, serta kesiapan operasional untuk mengetahui kesesuaian skenario dengan kondisi lapangan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, peserta menggunakan peta wilayah rawan banjir yang dibentangkan di lantai. Mereka kemudian menempatkan penanda dan menjalankan tugas sesuai skenario, mulai dari pengerahan personel hingga distribusi logistik.

Simulasi juga menggunakan skenario peringatan dini potensi hujan ekstrem dengan intensitas sekitar 150 milimeter per hari di kawasan DAS Bengawan Solo.

Peserta diminta menguji proses penetapan status siaga darurat serta pemenuhan kebutuhan sumber daya untuk penanganan bencana.

Rizal Syahru Romadlon Analis Kebencanaan Ahli Pertama BPBD Kabupaten Ngawi menilai, simulasi tersebut membantu pemerintah daerah memahami penerapan dokumen rencana kontingensi secara lebih konkret ketika menghadapi situasi darurat.

“Kegiatan seperti ini memberikan pemahaman yang lebih gamblang dan terstruktur mengenai tindakan nyata saat mengimplementasikan dokumen renkon, tanpa perlu menerka-nerka di lapangan,” kata Rizal. (ant/saf/faz)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Sabtu, 31 Oktober 2026
29o
Kurs