Senin, 5 Oktober 2026

Bencana Alam Bisa Picu Wabah Penyakit, BRIN Soroti Risiko DBD dan Malaria

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Nyamuk Aedes Aegypti yang terlihat terlihat di laboratorium. Foto: Reuters Ilustrasi - Nyamuk Aedes Aegypti yang terlihat terlihat di laboratorium. Foto: Reuters

Menurut dia, tsunami dan banjir, misalnya, dapat meninggalkan genangan air tawar maupun payau yang mengubah habitat sejumlah jenis nyamuk.

Sementara itu, kekeringan dapat membuat masyarakat menyimpan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan kondisi sanitasi yang tidak selalu memadai.

Perubahan tersebut kemudian dapat memengaruhi habitat dan pola persebaran hewan yang berperan sebagai vektor maupun reservoir penyakit, termasuk nyamuk dan tikus.

Jika kondisi lingkungan pascabencana tidak segera dipulihkan, risiko penularan penyakit dapat semakin besar. Proses peningkatan risiko akibat perubahan kondisi ekologis inilah yang disebut amplifikasi ekologi.

“Jadi, semakin lama maka lingkungan itu akan semakin memperkuat terjadinya perkembangan penyakit yang dibawa oleh vektor maupun reservoir itu sendiri,” ujarnya dilansir dari Antara.

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Senin, 5 Oktober 2026
28o
Kurs