Ristiyanto mengatakan perubahan ekologi secara ekstrem bahkan berpotensi memunculkan penyakit yang sebelumnya tidak umum atau jarang ditemukan di suatu wilayah.
Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai antara lain demam berdarah dengue (DBD), malaria, leptospirosis, hingga salmonelosis. Risiko tersebut dapat meningkat ketika kondisi lingkungan, sanitasi, ketersediaan air bersih, dan layanan kesehatan terganggu setelah bencana.
Karena itu, upaya mitigasi penyakit pascabencana tidak cukup hanya mengandalkan pemantauan jumlah pasien. Pemerintah dan petugas kesehatan juga perlu mengamati perubahan lingkungan yang dapat menjadi indikator awal meningkatnya risiko penularan.
Ristiyanto menilai pemantauan terhadap perubahan ekologi penting dilakukan sedini mungkin, terutama di wilayah yang mengalami kerusakan parah dan berpotensi mengalami gangguan pelayanan dasar.
“Jadi yang kita pantau bukan hanya jumlah penderita penyakit saja di sini, tetapi perubahan ekologi dapat menjadi sinyal sebelum peningkatan kasus itu terlihat,” ucapnya. (ant/saf/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

