“Semestinya ketika ada MBG, peran pemerintah daerah, peran bupati ini dilibatkan. Karena apa? Kita bisa melihat, satu dapurnya itu seperti apa. Cara kerjanya seperti apa?” ujarnya.
Selain melakukan sidak, Subandi mengatakan pihaknya telah meminta agar SPPG yang diduga berkaitan dengan kasus tersebut ditutup sementara. Keputusan itu diambil karena muncul kekhawatiran dari pihak pondok pesantren, sekolah, maupun orang tua siswa.
“Kalau kemarin sudah kita sampaikan, saya suruh tutup dengan kondisi seperti ini karena juga sudah pondok juga sudah ada rasa takut. Sekolah-sekolah juga takut dengan kondisi seperti itu. Orang tua pun menerima MBG juga takut,” jelasnya.
Sementara itu, berdasarkan data yang disampaikan Subandi, total pasien yang masuk rumah sakit mencapai 506 orang. Sebanyak 324 pasien sudah keluar rumah sakit, 65 pasien masih menjalani perawatan, dan 117 pasien masih dalam observasi.
Subandi mengatakan, pasien yang masih berada di rumah sakit memiliki kondisi yang beragam. Sebagian di antaranya memiliki riwayat kesehatan tertentu, seperti keluhan sesak, sehingga masih membutuhkan pemantauan.
Menurutnya, pasien yang mengalami dugaan keracunan ringan sebagian besar sudah diperbolehkan pulang. Untuk anak-anak yang sudah pulang, Subandi meminta mereka beristirahat terlebih dahulu di rumah hingga kondisi fisiknya kembali pulih sebelum kembali ke pondok pesantren. (saf/ipg)









