Senin, 2 November 2026

Buruh Tuntut Upah Naik Dua Kali Lipat, Puluhan Pabrik Garmen Tutup

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Para pekerja beroperasi di bagian jahit sebuah pabrik di Narayanganj, Banglades pada 18 November 2025. Foto: Reuters

Ribuan buruh industri garmen di Banglades kembali menggelar demonstrasi menuntut kenaikan upah minimum menjadi 30.000 taka atau sekitar Rp4,3 juta per bulan.

Aksi yang berlangsung di sejumlah kawasan industri pada Minggu itu mengganggu aktivitas transportasi dan operasional pabrik, meski pemerintah telah membentuk dewan pengupahan untuk membahas tuntutan pekerja.

Pemerintah Banglades membentuk dewan pengupahan beranggotakan enam orang untuk meninjau kembali besaran upah pekerja industri garmen.

Dilansir dari Reuters pada Minggu (1/11/2026), Ariful Haque Chowdhury Menteri Ketenagakerjaan dan Ketenagakerjaan Banglades mengatakan, pembentukan dewan tersebut dilakukan setelah pemerintah berdiskusi dengan perwakilan buruh dan pimpinan industri.

Ia juga meminta para pekerja kembali bekerja agar aktivitas produksi tidak terus terganggu.

Namun, keputusan tersebut belum meredakan aksi protes. Ribuan buruh tetap turun ke jalan karena menilai upah minimum saat ini sebesar 12.500 taka atau sekitar Rp1,8 juta per bulan tidak lagi mencukupi kebutuhan hidup.

Para pekerja menuntut kenaikan upah menjadi 30.000 taka atau sekitar Rp4,3 juta per bulan.

Mereka menilai kenaikan harga pangan, biaya tempat tinggal, transportasi, dan layanan kesehatan telah menggerus daya beli secara signifikan.

Di Dhaka, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstran yang memblokir salah satu persimpangan utama. Bentrokan juga terjadi setelah sejumlah demonstran melemparkan batu bata ke arah petugas.

Aksi serupa berlangsung di Gazipur, kawasan industri di pinggiran ibu kota Dhaka. Ratusan buruh memblokir jalan raya utama sehingga mengganggu arus transportasi di salah satu pusat manufaktur terbesar Banglades.

Mohammad Amjad Hossain Kepala Kepolisian Industri Gazipur mengatakan demonstrasi tersebut memaksa pemilik pabrik menghentikan sementara operasional sekitar 25 hingga 30 pabrik.

Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, aparat juga mengerahkan personel Border Guard Bangladesh.

Gelombang protes terbaru ini menyusul demonstrasi di Ashulia, salah satu pusat produksi garmen di pinggiran Dhaka.

Puluhan pabrik di kawasan tersebut menghentikan operasional pada Sabtu setelah para pekerja kembali menyuarakan tuntutan kenaikan upah.

Chowdhury memperingatkan, gangguan produksi yang berlangsung berkepanjangan dapat berdampak terhadap pengiriman barang ekspor dan pembayaran dari pembeli internasional. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan bagi produsen maupun pekerja.

Persoalan upah ini menjadi perhatian serius karena industri pakaian jadi atau ready-made garment (RMG) merupakan salah satu penopang utama perekonomian Banglades.

Industri tersebut mempekerjakan sekitar empat juta orang dan menyumbang lebih dari 80 persen pendapatan ekspor negara itu.

Selain itu, sektor garmen berkontribusi sekitar 10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Banglades.

Negara tersebut merupakan produsen pakaian jadi terbesar kedua di dunia setelah China dan menjadi pemasok berbagai produk fesyen bagi sejumlah merek besar di negara-negara Barat.

Di sisi lain, pelaku industri mengaku menghadapi tekanan biaya produksi yang semakin tinggi. Mereka juga harus berhadapan dengan gangguan pasokan gas dan listrik secara berkala serta ketidakpastian pasar energi akibat ketegangan di Timur Tengah. (saf/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Senin, 2 November 2026
29o
Kurs