Senin, 10 Agustus 2026

Hadapi 1,08 Juta Kasus TB, Unusa Dorong Diagnosis Berbasis AI dan Genomik

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Pembahasan tuberkulosis (TB) dalam International Guest Lecture: Research Frontiers in Infection and Fetal Neurodevelopment di Unusa, Surabaya, pada Senin (10/8/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mendorong diagnosis dan pengobatan tuberkulosis (TB) menggunakan teknologi yang lebih cepat dan presisi, seperti memanfaatkan artificial intelligence (AI), biomarker, hingga genomik.

Hal itu ditekankan Unusa, seiring dengan data Global Tuberculosis Report 2025 yang mencatat bahwa secara global pada 2024 terdapat sekitar 10,6 juta orang sakit TB dengan 1,3 juta kematian. Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus TB dunia atau sekitar 1,08 juta kasus dan menempati posisi kedua setelah India.

“Eliminasi TB membutuhkan perubahan paradigma, bukan sekadar inovasi yang bersifat inkremental,” kata Prof. Soedarsono pembicara International Guest Lecture: Research Frontiers in Infection and Fetal Neurodevelopment di Unusa, Surabaya, pada Senin (10/8/2026).

Soedarsono mengatakan, perubahan cara tersebut perlu dilakukan agar menggeser pola penemuan kasus dari passive case finding menuju deteksi yang lebih proaktif dan berbasis risiko.

Menurutnya, kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi, seperti kontak serumah pasien TB, penderita HIV, diabetes, malnutrisi, orang dengan riwayat TB, serta masyarakat yang tinggal di lingkungan padat, perlu menjadi sasaran deteksi lebih dini.

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Senin, 10 Agustus 2026
26o
Kurs