Ia menekankan bahwa teknologi AI harus berperan dalam proses skrining. Menurutnya, foto toraks digital yang dipadukan dengan AI bisa membantu mengidentifikasi kelompok yang membutuhkan pemeriksaan molekuler lebih lanjut.
Selain memanfaatkan teknologi digital, riset TB menurutnya juga perlu mencari alternatif sampel selain sputum atau dahak. Beberapa pendekatan yang bisa dikembangkan yakni pemeriksaan melalui urine, darah, tongue swab, aerosol pernapasan, hingga biomarker respons tubuh.
“Pendekatan ini penting karena tidak semua pasien mampu menghasilkan sputum yang memadai untuk pemeriksaan,” terang Guru Besar bidang Ilmu Penyakit Paru di Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya tersebut.
Ia menyebut, WHO pada 2026 telah merekomendasikan penggunaan tongue swab dengan teknologi tertentu untuk orang dewasa dan remaja yang tidak dapat menghasilkan sputum.
“Meskipun pemeriksaan sputum masih memiliki sensitivitas lebih tinggi dan tetap menjadi pilihan utama apabila tersedia,” jelasnya.

NOW ON AIR SSFM 100

