Soedarsono menjelaskan, perkembangan riset TB juga mengarah pada pemanfaatan biomarker host, seperti transcriptomic signatures, proteomik, metabolomik, cytokine panels, dan immune signatures. Biomarker tersebut diharapkan bisa membantu membedakan infeksi, penyakit subklinis, dan TB aktif. Selain itu, teknologi tersebut berpotensi untuk memperkirakan risiko perkembangan penyakit serta respons pasien terhadap terapi.
“Perubahan paradigma juga diperlukan dalam pengobatan TB. Pasien TB tidak dapat dipandang sebagai kelompok yang homogen karena respons terhadap obat dapat dipengaruhi berbagai faktor,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyatakan bahwa teknologi genomik turut berperan penting, terutama dalam menghadapi resistansi obat.
Pengobatan TB ke depan, lanjut dia, perlu diarahkan menuju kedokteran presisi, agar memberikan obat kepada pasien yang tepat, dengan dosis dan durasi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing pasien.
Penyakit TB menurutnya bersifat dinamis, sehingga penelitian masa depan perlu mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami progresi, pasien yang tetap stabil, serta mereka yang membutuhkan terapi pencegahan lebih intensif.
Ia menegaskan, keberhasilan inovasi kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga sejauh mana inovasi tersebut memberikan dampak bagi masyarakat. Sehingga, pengembangan diagnosis dan terapi TB harus diarahkan agar semakin mudah diakses, akurat dan aman. (ris/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

