Iran menegaskan belum memiliki rencana untuk kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat (AS).
Teheran menyatakan, pembicaraan baru dapat dilakukan apabila Washington menunjukkan perubahan sikap terhadap Republik Islam tersebut.
Pernyataan itu disampaikan sumber yang dekat dengan tim perunding Iran kepada kantor berita Fars pada Sabtu (11/7/2026).
“Iran tidak meminta dilakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat, dan tidak akan ada negosiasi sampai Amerika Serikat mengubah sikapnya,” ujar sumber tersebut seperti dikutip Fars.
Namun, laporan itu tidak menjelaskan secara rinci bentuk perubahan kebijakan atau sikap yang diharapkan Iran dari pemerintah Amerika Serikat.
Di sisi lain, laporan Axios yang ditulis Barak Ravid, mengutip pejabat Amerika Serikat, menyebut Washington mengajukan sejumlah tuntutan kepada Teheran.
Salah satunya adalah memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional serta menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial paling lambat Sabtu.
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran tiba di Oman untuk menggelar pembahasan mengenai situasi keamanan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Ketegangan antara kedua negara kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran pada Selasa (8/7/2026) malam hingga Rabu (9/7/2026) dini hari.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Sebagai balasan, Iran menyatakan telah menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Pemerintah Iran juga menuduh Washington melanggar nota kesepahaman yang sebelumnya disepakati terkait penghentian permusuhan.
Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) kemudian menyatakan bahwa gencatan senjata antara Washington dan Teheran telah berakhir sehingga tidak lagi berlaku.
Sementara itu, laporan Reuters pada Jumat (10/7/2026), mengutip pejabat Amerika Serikat, menyebut kesepakatan baru mengenai program nuklir Iran akan mensyaratkan Teheran menyerahkan seluruh cadangan uranium yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi.
Menurut laporan tersebut, apabila Iran menolak memenuhi persyaratan itu, Amerika Serikat disebut tetap memiliki opsi militer untuk memastikan persediaan uranium yang diperkaya tidak dapat digunakan, termasuk dengan menjaga agar material tersebut tetap terkubur di bawah tanah. (ant/saf/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

