Buku tersebut turut menghadirkan KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah sebagai representasi ulama, teknokrat, dan penulis yang melakukan transformasi Pesantren Tebuireng dengan tetap mempertahankan tradisi salaf.
Kisah ulama yang berjuang dari akar rumput juga dihadirkan melalui sosok Kyai Abu Sujak, KH. Umar Faruq, KH. Abdul Nashir Fattah, KH. Moch. Djamaluddin Ahmad, KH. Abdul Mujib Adnan, Dr. KH. Isrofil Amar, M.Ag., KH. Ahmad Baidlowi Yasin, hingga KH. Abdurrahman bin Bahri.
Kehadiran buku tersebut, menurutnya penting menjelang Muktamar ke-35 NU karena sejarah perkembangan organisasi tersebut tidak hanya dibentuk oleh peristiwa besar di tingkat nasional, tetapi juga oleh kiprah para ulama di tingkat lokal.
Ia mengatakan, melalui rekam jejak 21 masyayikh tersebut, pembaca bisa melihat bagaimana nilai keilmuan, pendidikan, dakwah, kebangsaan, hingga pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian dari perjalanan NU di Jombang.
“Buku 21 Masyayikh NU Jombang mengajak pembaca menengok kembali akar perjuangan NU di tingkat lokal, termasuk kiprah para kiai yang dengan ilmu, pendidikan, dan pengabdian turut membangun tradisi Nahdlatul Ulama,” pungkasnya. (ris/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

