Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tercatat meluas hingga sekitar 520 hektare pada, Minggu (10/8/2026).
Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jawa Timur (Wagub Jatim) usai meninjau langsung kondisi kawasan Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo, Minggu, mengatakan proses pemadaman tidak mudah karena medan Bromo cukup sulit dijangkau.
Selain itu, perubahan arah angin menjadi salah satu kendala utama karena bisa membuat api kembali menyebar ke area lain.
“Proses pemadaman tidak berjalan mudah. Angin yang berubah-ubah menjadi salah satu kendala utama karena dapat menyebabkan api kembali menyebar ke kawasan lain,” kata Emil seperti dikutip Antara.
Berdasarkan data sementara, vegetasi yang terbakar meliputi hamparan rumput khas pegunungan dan sejumlah tanaman di kawasan konservasi, termasuk bunga edelweiss.
Sejumlah titik api masih ditemukan di kawasan P30 Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo hingga area Penanjakan 1. Petugas gabungan terus melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa dan berpotensi memicu kebakaran kembali.
Emil mengatakan, sebelum menuju titik terdampak, tim gabungan lebih dulu menyusun strategi pemadaman dengan mempertimbangkan arah angin, kondisi vegetasi, dan tingkat kesulitan medan. Pemadaman dilakukan melalui kombinasi jalur darat dan udara.
“Pemadaman kami lakukan dengan melihat kondisi dan medan di lapangan. Ada pemadaman darat dan juga kami dukung dengan pemadaman dari udara,” katanya.
Untuk operasi udara, tiga helikopter water bombing dikerahkan menyiram titik-titik api yang sulit dijangkau personel. Sementara dari jalur darat, petugas menggunakan tujuh mobil pemadam kebakaran dan tiga drone water spray untuk membantu penanganan di sejumlah area terbakar.
Ratusan personel gabungan juga diterjunkan untuk pemadaman manual, membuka jalur, serta menyisir kawasan yang masih menyimpan bara api. Mereka berasal dari unsur TNI, BPBD, BB-TNBTS, dan relawan. “Kami koordinasikan bersama karena penanganannya membutuhkan kerja sama semua pihak,” kata Wagub Jatim.
Selain faktor cuaca, petugas juga menghadapi keterbatasan peralatan manual. Alat gepyok yang digunakan untuk memadamkan api di sejumlah titik bahkan telah habis digunakan.
Medan terjal dan sebagian besar berupa perbukitan membuat akses menuju titik kebakaran tidak selalu bisa ditempuh kendaraan. Petugas harus berjalan kaki sehingga proses pemadaman butuh waktu lebih lama.
Meski area terbakar cukup luas, api dilaporkan tidak sampai membakar kawasan Lembah Watangan maupun Bukit Teletubbies yang menjadi salah satu daya tarik wisata Bromo.
Dalam peninjauan itu, Emil juga mengikuti koordinasi bersama Rudjanta Tjahja Nugraha Kepala Balai Besar TNBTS, Letkol Inf Ribut Yudho Apriantono Komandan Kodim 0820 Probolinggo, Gatot Soebroto Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Oemar Sjarief Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, serta sejumlah perwakilan relawan. (ant/bil/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

