Ancaman tidak berhenti pada asap. Api yang membakar vegetasi tepian sungai juga dapat menghilangkan sebagian sumber pakan dan tempat berlindung bekantan. Ketika habitatnya rusak, kelompok bekantan bisa terdorong berpindah mencari kawasan lain yang masih menyediakan makanan dan perlindungan.
“Perpindahan atau migrasi ini tentu perlu kita pantau, karena bisa saja mereka memasuki habitat yang kualitasnya kurang baik atau menghadapi gangguan dari aktivitas manusia,” jelasnya.
Kondisi itu membuat dampak karhutla terhadap bekantan tidak otomatis selesai ketika api berhasil dipadamkan. Vegetasi yang terbakar membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali, sedangkan kebutuhan satwa terhadap makanan dan tempat berlindung berlangsung setiap hari.
Karena itu, Amalia menilai pemulihan pascakarhutla perlu menjadi bagian penting dalam upaya konservasi. Pemantauan tidak hanya berhenti pada luas lahan yang terbakar, tetapi juga kondisi vegetasi, ketersediaan pakan alami, kualitas habitat, hingga keberadaan kelompok bekantan.
“Dalam konservasi, kita tidak boleh hanya mengukur keberhasilan dari berhasil atau tidaknya memadamkan api. Kita juga harus melihat apakah habitatnya masih mampu mendukung kehidupan bekantan setelah kebakaran terjadi,” katanya.

NOW ON AIR SSFM 100

