Sabtu, 8 Agustus 2026

Kebakaran Kawasan Gunung Bromo Diduga karena Aktivitas Manusia

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Petugas gabungan saat memantau kepulan asap yang muncul di sejumlah titik kawasan Bromo, Kamis (6/8/2026). Foto: BPBD Jatim

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menduga peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo yang terjadi sejak Senin(3/8/2026), dipicu oleh aktivitas manusia.

Rudijanta Tjahja Kepala Balai Besar TNBTS menerangkan, dugaan awal penyebab kebakaran kawasan Gunung Bromo karena faktor manusia.

Ia menambahkan, jalur di atas yang menjadi titik awal api berdekatan dengan jalur alternatif warga, yang menghubungkan Desa Arjosari dan Ranupani.

“Kalau dari dugaan ada kemungkinan itu faktor manusia dan bukan faktor alam. Karena jalur di atas, awal munculnya titik api itu ada di puncak tebing. Ada jalur tradisional yang menghubungkan Desa Arjosari dan Desa Ranupani. Sepertinya tidak ada unsur sengaja kalau menurut kami,” katanya dalam keterangan resmi pada Sabtu (8/8/2026).

Meski begitu, pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran kawasan Gunung Bromo.

Selain itu, saat ini tim gabungan sedang fokus mempercepat pemadaman agar api tidak semakin meluas, sementara proses investigasi penyebab kebakaran akan terus dilakukan secara paralel.

“Saat ini kami masih fokus pada upaya pemadaman. Namun, penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran akan terus kami lakukan,” tambahnya.

Sementara itu, awalnya karhutla terdeteksi pada Senin (3/8/2026) dengan luas lahan terbakar sekitar 7,9 hektare.

Namun dalam beberapa hari berikutnya, api terus meluas hingga mencapai 44 hektare, dan berdasarkan perkembangan terakhir pada Jumat pagi luas area terdampak mencapai sekitar 176 hektare.

Karena lahan yang terbakar menjadi semakin luas, mulai hari kedua kebakaran, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur langsung berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk meminta dukungan helikopter water bombing berkapasitas 1.000 liter.

Selain itu, operasi pemadaman juga diperkuat dengan penggunaan drone water bombing yang memiliki kapasitas angkut air sekitar 100 hingga 150 liter setiap penerbangan.

Kombinasi operasi darat, helikopter, dan drone diharapkan mampu mempercepat pengendalian api. (kir/saf/faz)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Sabtu, 8 Agustus 2026
30o
Kurs