Aksi damai yang digelar kelompok pesilat di Polrestabes Surabaya pada Jumat (31/7/2026) lalu, ramai dikaitkan dengan isu Suku, Ras, Agama, dan Antargolongan (SARA).
Mengenai hal itu, Bondan Koordinator Kelompok Pesilat menegaskan bahwa aksi yang dia lakukan bersama rekan-rekannya kemarin, murni untuk solidaritas. Sekaligus mendesak pihak kepolisian segera memproses kasus pembacokan tersebut.
“Kasus pembacokan kemarin itu murni karena masalah pekerjaan, bukan isu lainnya. Sementara aksi damai di Polrestabes Surabaya kemarin karena kami ingin mendesak pihak kepolisian agar kasus ini segera ditangani. Terlebih masih ada satu tersangka lagi yang DPO,” katanya, Minggu (2/8/2026).
Dia mengaku, kelompoknya tifak memiliki niat lain di balik aksi damai yang dilakukan di Polrestabes Surabaya selain ingin melawan bentuk premanisme yang dilakukan oleh seorang oknum debt collector.
“Justru aksi kami karena ingin melawan premanisme. Tidak ada niatan kami untuk bermusuhan dengan kelompok lain,” tambahnya.
Sementara itu, Bondan juga mengaku membuka ruang komunikasi dengan kelompok yang bersangkutan. Karena pihaknya berkomitmen untuk mengedepankan rekonsiliasi dan menjadikan aksi premanisme musuh bersama.
“Karena lawan kami di sini bukan orangnya, melainkan aksi premanisme. Siapapun mereka, kalau memang melakukan premanisme, akan kami lawan,” tutupnya.
Diberitakan sebelumnya, kelompok pesilat di Surabaya menggelar aksi damai di Polrestabes Surabaya pada Jumat (31/7/2026) kemarin, setelah salah satu rekannya menjadi korban pembacokan oleh oknum debt collector.
Saat ini, pihak kepolisian telah menangkap satu tersangka inisial S. Sedangkan satu tersangka lagi masih DPO.
Bondan mendesak pihak kepolisian untuk segera menangkap satu DPO itu dan memproses hukum pelaku yang telah ditangkap, secara transparan dan adil. (kir/saf/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

