“8 jam blm dpt ruangan, Gamau spill RS (rumah sakit) nya, soalnya gue pake bpjs,” tulis mendiang Yusrizal 22 Juli lalu.
Unggahan itulah, yang kemudian mendapat balasan bernada negatif dari sejumlah akun yang belakangan diketahui dimiliki oleh nakes.
“Kalo full, mau dipindahkan ke mana? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak BPJS yang make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah gini,” tulis akun @bennychrstn yang belakangan diketahui merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Selain itu, ada juga akun @erudarahaadini yang ikut berkomentar, tidak memberikan penjelasan prosedural medis, tetapi hanya sekadar mengolok pasien tersebut. “PP-nya kayak orang Have tapi aslinya Haven’t kah? Haven’t some brain cells,” tulisnya.
Belakangan warganet menemukan bahwa akun @erudarahaadini adalah seorang dokter. Pemiliknya adalah dr. Elda Putri Rahardini, alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) dan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Komentar-komentar tersebut memicu kecaman publik, terlebih setelah pasien tersebut dikabarkan meninggal dunia, sehingga kembali memunculkan perhatian terhadap pentingnya etika nakes dalam bermedia sosial. Para nakes terkait kemudian mengunggah video permintaan maaf terkait ketikannya di media sosial itu. (bil/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

