Minggu, 8 November 2026

Lansia di Setro Surabaya Diduga Jadi Korban Gendam, Kehilangan Uang Rp30 Juta dan Emas 300 Gram

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi seorang lansia mengoleskan pelembap ke tangan. Foto: Dok Antara

Seorang perempuan lanjut usia inisial EWT (75 tahun) diduga menjadi korban penipuan bermodus gendam di kawasan Setro Lebak, Tambaksari, Surabaya, Minggu (8/11/2026) pagi. Akibat kejadian itu, korban kehilangan uang tunai Rp30 juta dan perhiasan emas seberat sekitar 300 gram.

Kepada Radio Suara Surabaya, EWT yang didampingi Meli (38 tahun) anaknya menceritakan, kejadian itu bermula waktu dia sedang membeli buah di dekat rumah. Saat itu, sekitar pukul 09.00 WIB, korban tiba-tiba didatangi seorang perempuan yang menanyakan keberadaan tanaman serai merah.

Tak lama kemudian, orang lain datang dan mengaku mengetahui lokasi tanaman tersebut. Korban kemudian diajak pergi dengan alasan akan ditunjukkan juga tempat mendapatkan serai merah.

Meli mengatakan, dari keterangan ibunya, korban awalnya tidak berniat mengikuti ajakan orang-orang yang baru dikenalnya itu. Namun, setelah dibujuk, korban akhirnya bersedia ikut.

“Ada orang satu datang lewat saya, ini mau minta tolong tanya ada sereh merah enggak? Saya bilang enggak ada. Terus habis bicara sebentar, ada orang lagi datang katanya, ‘Oh, ada di tempat saya. Ayo, tak anter’,” cerita korban saat on air di Radio Suara Surabaya.

Korban kemudian dibawa menggunakan mobil Toyota Innova Reborn berwarna putih. Di dalam kendaraan itu, orang-orang tersebut mulai membicarakan ritual sembahyang untuk membuang sial.

Mereka menyampaikan kepada korban bahwa ada hal buruk yang dapat menimpa rumahnya, termasuk kemungkinan terjadinya kecelakaan, apabila tidak dilakukan ritual tertentu.

Dengan alasan itu, korban pun diantar ke gang depan rumahnya, dan diminta membawa uang tunai dan perhiasan emas untuk keperluan sembahyang. Barang-barang tersebut dijanjikan akan dikembalikan setelah ritual selesai.

Setibanya di rumah, EWT kemudian mengambil uang tunai Rp30 juta dan sejumlah perhiasan emas yang selama ini disimpannya di rumah. Setelah itu, dia kembali menemui orang-orang tersebut yang menunggu di depan gang, dekat sebuah salon.

Uang dan perhiasan kemudian diserahkan kepada mereka untuk keperluan ritual yang sebelumnya dijanjikan. Tapi, setelah barang-barang berharga itu diserahkan, korban justru diminta pulang terlebih dahulu.

Menurut EWT, orang-orang tersebut beralasan gelas yang digunakan dalam ritual sembahyang pecah karena dirinya tergesa-gesa. Dia kemudian diminta kembali tiga hari kemudian.

“Katanya karena aku tergesa-gesa, terus yang sembahyang itu gelasnya pecah, tapi enggak boleh, harus tiga hari lagi baru boleh kembali. Terus saya disuruh pulang dulu,” ceritanya.

Korban akhirnya diturunkan di tepi jalan tanpa membawa kembali uang dan perhiasannya. Dia mengaku tidak mengenal orang-orang tersebut dan belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.

EWT juga mengungkapkan kesedihannya karena uang dan perhiasan yang hilang merupakan harta simpanannya, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pengobatan. “Hilang semua, Pak. Ndak bisa untuk berobat, Pak,” ungkapnya sambil terisak.

Sementara itu, Meli anak korban mengatakan ibunya memang sempat pulang ke rumah sebelum kembali menemui orang-orang yang diduga melakukan penipuan tersebut.

Saat pulang, EWT membawa buah yang baru dibelinya. Namun, keluarga tidak menyadari bahwa korban kemudian mengambil uang tunai dan perhiasan dari dalam rumah.

“Terus pulang ke rumah, dia ngambil barang semua, langsung mama pergi lagi,” kata Meli.

Menurut Meli, perhiasan emas seberat sekitar 300 gram yang hilang merupakan perhiasan kuno peninggalan keluarga yang diwariskan secara turun-temurun.

Dia mengatakan ibunya akhirnya kembali ke rumah dalam kondisi selamat dan tidak mengalami kekerasan fisik. Namun, seluruh uang dan perhiasan yang dibawanya telah hilang.

“Mama pulang dengan selamat, barang-barangnya semua dibawa,” ujarnya.

Setelah mengetahui kejadian itu, keluarga kemudian berusaha mencari kendaraan yang membawa EWT. Tapi, mobil itu sudah tidak ditemukan di sekitar lokasi.

Meli kemudian menelusuri rekaman CCTV di sekitar rumah dan mendapati mobil Toyota Innova Reborn putih dengan nopol B 2353 BZK, yang diduga digunakan orang-orang tersebut.

Berdasarkan keterangan keluarga, salah satu terduga pelaku merupakan perempuan muda yang mengenakan masker dan keluar dari pintu penumpang. Sementara itu, terdapat orang lain yang mengemudikan kendaraan.

Meli mengatakan pihak keluarga telah melaporkan kejadian tersebut melalui layanan kepolisian 110. Petugas dari Polsek Tambaksari juga telah mendatangi lokasi untuk meminta keterangan.

Keluarga juga telah mendapatkan rekaman CCTV yang dapat digunakan sebagai bahan penelusuran kendaraan, yang dipakai pelaku untuk melancarkan aksinya.

Atas kejadian ini, Meli meminta bantuan masyarakat yang mengetahui keberadaan mobil tersebut untuk menyampaikan informasi kepada pihak kepolisian. “Saya minta tolong bantuannya barangkali warga bisa melihat mobil,” pungkasnya. (bil/dim)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Gundukan Kerikil di Bratang Binangun

Truk Terguling di Menjelang Sembayat

Pengerjaan Jalan, Lalu Lintas Menganti Macet

Eits, Miring

Surabaya
Minggu, 8 November 2026
36o
Kurs