Mahdalena anggota Komisi VIII DPR RI menegaskan penerapan program manasik kesehatan sebagai syarat wajib bagi calon jemaah haji sangat penting.
Program tersebut untuk memastikan setiap jemaah memenuhi syarat istitaah kesehatan sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci.
Mahdalena mengatakan manasik kesehatan harus dijalankan secara serius sebagai instrumen untuk menilai kesiapan fisik calon jemaah.
Menurutnya, program tersebut tidak boleh berhenti pada pemeriksaan administratif, melainkan benar-benar mampu mengurangi risiko kegawatdaruratan medis selama pelaksanaan ibadah haji.
“Kami mendukung penerapan program manasik kesehatan haji mulai 2027. Program ini harus benar-benar memastikan bahwa jemaah yang berangkat dalam kondisi sehat dan memenuhi syarat istitaah, sehingga dapat menjalankan ibadah dengan aman dan optimal,” kata Mahdalena di Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Ia menjelaskan, pemeriksaan kesehatan sejak jauh hari akan memberikan kesempatan bagi tenaga medis untuk melakukan pendampingan terhadap calon jemaah yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.
Dengan demikian, kondisi kesehatan mereka masih dapat diperbaiki sebelum memasuki masa keberangkatan.
Menurut Mahdalena, materi dalam manasik kesehatan juga perlu dibuat lebih lengkap. Selain pemeriksaan kesehatan, calon jemaah harus memperoleh pembekalan mengenai pengelolaan obat, pola makan yang tepat, latihan kebugaran, hingga langkah-langkah mencegah dehidrasi dan infeksi saluran pernapasan saat berada di Arab Saudi.
“Program tersebut harus disusun secara menyeluruh dengan menempatkan perlindungan kesehatan sebagai prioritas. Jemaah juga perlu dibekali kebiasaan berolahraga secara rutin sebelum keberangkatan, menjaga pola makan, serta memahami cara mencegah penyakit,” ujarnya.
Legislator asal Nusa Tenggara Barat itu juga meminta agar standar pelaksanaan manasik kesehatan segera diterapkan secara merata di seluruh daerah, termasuk menjadi pedoman bagi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).
Dia menilai kesamaan pemahaman seluruh penyelenggara menjadi kunci keberhasilan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan jemaah.
“Semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah haji harus memiliki pemahaman dan komitmen yang sama. Dengan demikian, manasik kesehatan tidak hanya menjadi program seremonial, tetapi benar-benar mampu melahirkan jemaah haji Indonesia yang sehat dan siap secara fisik,” pungkasnya.(faz/iss)

NOW ON AIR SSFM 100

