Wahyudi Anas, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan bahwa penyebab antrean panjang yang sempat terjadi di sejumlah SPBU di Jawa Timur beberapa waktu lalu karena adanya kenaikan konsumsi pertalite dan solar mencapai 25 persen dibanding kondisi normal.
“Kalau kita lihat satu per satu, untuk daerah yang kritis dan antreannya besar, kenaikan konsumsinya mencapai 25 persen. Sementara di daerah lain, di luar wilayah yang menjadi antrean, kenaikan rata-rata hanya 6 sampai 7 persen,” kata Wahyudi saat mengudara di Radio Suara Surabaya, pada Jumat (3/7/2026).
Ia menjelaskan, secara umum di wilayah Jatim, konsumsi Pertalite hingga 29 Juni tercatat naik sekitar 14 persen dibanding kondisi normal. Sementara konsumsi solar, yang banyak digunakan untuk angkutan barang, penumpang, dan layanan umum, naik 10,8 persen.
Dari hasil telaah BPH Migas, kenaikan konsumsi yang tajam di titik-titik antrean sejalan dengan meningkatnya volume kendaraan angkutan logistik di kawasan sekitar pelabuhan, seperti Tanjung Perak, Teluk Lamong, dan Gresik.
“Dari analisis kami, memang ada peningkatan kendaraan angkutan logistik yang sangat tajam. Kendaraan-kendaraan ini membutuhkan BBM untuk membawa barang dari pelabuhan ke titik-titik pengiriman,” ujarnya.









