Insiden longsor yang melanda ruas Tol Bogor–Ciawi–Sukabumi (Bocimi) tepatnya di KM 72, Desa Cibunarjaya, Ciambar, Rabu (6/5/2026) kemarin, dapat sorotan ahli Geologi.
Salah satunya Dr. Amien Widodo Pakar Geologi sekaligus Peneliti Senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS yang menyebut bahwa peristiwa itu harus jadi alarm keras bagi pengelola jalan tol di Indonesia.
Ia memperigatkan, bahwa pemotongan lereng bukit untuk jalan tol menyimpan risiko laten yang harus dimitigasi secara menyeluruh. Longsor di satu titik merupakan indikasi bahwa lereng di sekitarnya juga berada dalam kondisi rawan, karena memiliki karakteristik tanah dan batuan yang serupa.
“Jadi kalau kita melihat sudah ada yang longsor, berarti memang ini waktunya pengelola juga untuk melihat di sepanjang jalan itu, khususnya di kawasan yang memotong lereng tadi. Karena itu kan lerengnya sama, tanahnya sama. Mestinya kok ada yang longsor di situ mestinya yang lain juga harus diperhatikan begitu,” ujar Amien saat on air di Radio Suara Surabaya, Kamis (7/5/2026).
Menurut Amien, pengelola jalan tol harus proaktif melakukan identifikasi lapangan. Jika ditemukan tanda-tanda awal seperti retakan, penanganan harus segera dilakukan sebelum kondisi memburuk dan biaya perbaikan membengkak.
Retakan kecil relatif lebih mudah ditambal, namun jika sudah melebar, diperlukan penanganan konstruksi yang jauh lebih kompleks. Ia juga menyoroti adanya perbedaan perlakuan pada lereng tol, di mana ada titik yang dibiarkan hijau dan ada yang diberi perabatan (shotcrete).
Menurutnya, perabatan biasanya dilakukan karena petugas sudah melihat adanya potensi kerawanan di titik tersebut. Namun, hal itu tidak meniadakan kebutuhan akan pemantauan terus-menerus.
Mengingat intensitas hujan yang cenderung meningkat, Amien mengusulkan agar frekuensi pemantauan lereng dilakukan secara rutin, terutama menjelang perubahan musim.
“Kalau tadi misalnya kelihatan ada yang bergerak, misalnya dulu 1 cm sekarang kok menjadi 5 cm. Ya, berarti itu harus ada dikasih alat semacam itu untuk monitoring untuk dilihat gitu,” tambahnya.
Pada kesempatan itu, Amien juga mengingatkan pengelola jalan tol di Jawa Timur untuk tetap waspada, belajar dari pengalaman masa lalu. Ia menyebutkan kawasan KM 737 di Jawa Timur yang juga memotong lereng dan pernah mengalami insiden serupa.
“Kalau kita pernah lihat itu di kilometer 737 itu kan juga memotong lereng. Nah, itu pernah longsor dan ini memang sudah diperbaiki sih. Tapi mestinya sepanjang lereng itu harus dilihat terus, dimonitor. Minimal pada waktu musim hujan dilihat, setahun sekali lah,” ucapnya.
Dr. Amien mengatakan, rekomendasi ini telah disampaikan ke berbagai pihak dan pejabat berwenang. Harapan adanya langkah pencegahan konkret sebelum bencana yang lebih besar terjadi di masa mendatang.
“Ini rekomendasinya. Saya tadi kirim ke banyak orang termasuk pejabat-pejabat ya. Dipake apa enggak, ya suka-suka. Kita hanya ngirim aja sih,” ungkapnya. (bil/ham)








