Senin, 28 September 2026

Pakar Ketahanan Pangan UB Ungkap Titik Rawan Keracunan MBG, dari Bahan Baku hingga Distribusi

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyiapkan Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto: prabowosubianto.com

Keracunan usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) jadi salah satu catatan pilu sepanjang bulan September. Bagaimana tidak, sepanjang bulan ini, lebih dari 3.000 orang yang sebagian besar anak-anak keracunan usai menyantap menu dari program prioritas Prabowo Subianto Presiden RI tersebut.

Lokasi kejadiannya beragam, di antaranya Sidoarjo (Jawa Timur) pada awal bulan ini ada 748 korban, kemudian Rembang (Jawa Tengah) 777 orang, Batang (Jawa Tengah) 287 orang, Jombang (Jawa Timur) 256 orang, Tana Toraja (Sulawesi Selatan) 152 orang, dan masih banyak lagi kasus keracunan MBG di bulan September.

Terkait hal ini, Dr. Sujarwo dosen sekaligus pakar ketahanan pangan Universitas Brawijaya (UB) Malang menilai rentetan kasus dugaan keracunan MBG ini perlu dievaluasi seluruh prosesnya. Mulai penyediaan makanan, mulai dari pasokan bahan baku, pengolahan di dapur, hingga distribusi kepada penerima manfaat.

Menurutnya, kasus keracunan tidak bisa langsung dikaitkan dengan satu penyebab atau kesalahan pihak tertentu. Ada sejumlah titik rawan dalam operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang perlu diperiksa secara menyeluruh.

“Kalau terjadi keracunan berarti ada yang kedodoran, kan gitu ya. Kita tidak bisa ngambil satu sisi saja menyalahkan siapa. Enggak lah. Kita harus lihat itu, dievaluasi, sebenarnya titik lemahnya di mana?” kata Sujarwo saat on air di program Wawasan Suara Surabaya, Senin (28/9/2026).

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Senin, 28 September 2026
31o
Kurs