Ia mencontohkan, apabila kapasitas penyimpanan tidak memadai, sebagian bahan baku berisiko disimpan di luar fasilitas pendingin sehingga kualitasnya menurun. Belum lagi, pengirimannya yang lama membuat makanan jadi basi.
“Termasuk juga di dalam proses delivery-nya mungkin lama, terus kemudian di dalam handling di dapurnya mungkin ada yang terkontaminasi, bisa juga karena volumenya besar, bahan bakunya harus disimpan. Kemudian somehow misalnya tidak cukup daya dukung fasilitas SPPG-nya, sehingga mungkin ada yang (ditaruh) di luar freezer misalnya. Sehingga kemudian ada yang agak kurang baik kondisinya, dimasak-masak saja, efeknya timbul bakteri jahat akan meracuni makanan,” bebernya.
Karenanya, ia meminta selain pengolahan di dapur, waktu pengiriman menuju sekolah atau lokasi penerima manfaat juga harus diperhatikan. Makanan yang telah dimasak perlu didistribusikan dengan pengendalian waktu dan suhu yang tepat, agar tetap aman ketika dikonsumsi.
“Kalau di pedomannya itu kan (penerima manfaat) ada Ibu hamil, Ibu menyusui termasuk juga balita, PAUD sampai SMA begitu ya. Ini kan kelompok sasaran yang besar sekali. Sehingga proses mulai dari persiapan bahan baku sampai kemudian siap saji itu harus dalam presisi yang baik. Ini yang perlu perbaikan segera ya, supaya tidak menjadi buruk outcome-nya. Justru kalau bisa zero accident gitu ya,” jelasnya.
Tata Kelola SPPG dan Tanggung Jawab Perlu Diperjelas

NOW ON AIR SSFM 100

