Sujarwo yang juga Wakil Ketua Umum I Pengurus Pusat PERHEPI (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia itu menyebut, ada salah satu persoalan mendasar sektor pertanian dan peternakan yang turut mempengaruhi, yakni lemahnya hubungan antara pasokan dan permintaan.
Dapur SPPG hingga Distribusi Jadi Titik Rawan
Di sisi lain, ketika program MBG menciptakan kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar setiap hari, produksi di tingkat petani belum tentu mampu mengimbanginya. Keterbatasan itu, yang kemudian membuat SPPG berpotensi kesulitan memperoleh pasokan yang konsisten. Sehingga, sumber yang diambil menurutnya serampangan.
“Kalau rantai pasok tidak ready, berarti akan sembarangan (SPPG) ngambilnya. Pokoknya memenuhi kuota serving 2.000 porsi misalnya. Nah, terus kemudian kalaupun itu dengan kedodoran bisa (tiba-tiba) dipenuhi, apakah kapasitas di SPPG itu bisa handling dengan higienis. Nah, itu kan juga titik-titik titik rawan juga,” ujarnya.
Persoalan berikutnya muncul ketika bahan pangan tiba di dapur SPPG. Sujarwo menyoroti kapasitas penyimpanan dapur MBG, ketersediaan fasilitas pendingin, serta kemampuan petugas menangani bahan pangan dalam volume besar secara higienis.

NOW ON AIR SSFM 100

