Parade Surabaya Juang 2026 yang akan digelar pada, Minggu (1/11/2026) mendatang, bakal menghadirkan kembali sejumlah peristiwa bersejarah dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Surabaya.
Salah satu kisah yang diangkat yaitu perjuangan Soegiarto, pemain Persebaya era 1930-an yang meninggalkan lapangan sepak bola untuk ikut bertempur melawan pasukan Sekutu hingga gugur di medan perang.
Heri Lentho budayawan sekaligus sutradara Parade Surabaya Juang menjelaskan, tema tahun ini merupakan bagian dari konsep trilogi yang dimulai sejak penyelenggaraan tahun lalu dengan tema “Surabaya Epic”.
Jika sebelumnya parade menonjolkan keteladanan para pejuang, tahun ini keberanian menjadi nilai utama yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
“Yang tahun ini Surabaya Wani dan ketika ngomong konsep ideologi atau DNA-nya warga Surabaya yang berjiwa pemberani itu salah satunya ikonnya diangkat nanti itu Soegiarto, bek Persebaya (era) tahun 1930-an itu, dari olahragawan sepak bola turun gelanggang ketika diultimatum oleh Sekutu. Dia masuk ke ikut barisan laskar untuk berperang itu,” ujar Heri Lentho saat mengisi program talkshow Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (30/10/2026).
Soegiarto sendiri merupakan pemain belakang Persebaya asal Ngaglik, Surabaya. Dia pernah memperkuat Persebaya dalam kompetisi sepak bola pada masa pendudukan Jepang, termasuk pertandingan yang berlangsung di Jakarta pada 1942 dan Solo.
Ketika pertempuran mempertahankan kemerdekaan berlangsung, Soegiarto bergabung dengan Pasukan Pertahanan Pemuda Kantor Kota. Pasukan itu ikut memperkuat pertahanan di kawasan Kapasan hingga Van Sandickstraat, yang sekarang dikenal sebagai Jalan Residen Sudirman.
Soegiarto kemudian gugur dalam pertempuran Surabaya. Jenazahnya dimakamkan di kawasan pemakaman massal dekat Lapangan Canalaan, yang kini menjadi bagian dari Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.
Heri Lentho menjelaskan, kisah Soegiarto akan menjadi pengantar untuk menggambarkan bagaimana arek-arek Surabaya menghadapi ultimatum Sekutu dan memilih mempertahankan kemerdekaan.
Nantinya, perjuangan akan dimulai dengan adegan Soegiarto yang sedang bermain sepak bola bersama rekan-rekannya. Aktivitas tiba-tiba mendadak terhenti setelah datang kabar mengenai ultimatum Sekutu yang memerintahkan rakyat Surabaya menyerahkan senjata.
Soegiarto kemudian memutuskan meninggalkan lapangan dan bergabung dengan para pejuang. Dalam adegan berikutnya, dia bersama rekan-rekannya menuju markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR) untuk menemui Kolonel Sungkono.
Heri mengatakan, Soegiarto akan menjadi tokoh utama yang menghubungkan rangkaian cerita sejak awal parade hingga rekonstruksi pertempuran di titik akhir.
“Jadi kemudian diantar menuju markas itu, bertemu dengan Kolonel Sungkono, kemudian sumpah bersama-sama untuk menghadapi ultimatum dan langsung perang 10 November itu. Sumpah merdeka atau mati yang nanti dibacakan oleh Sungkono,” jelasnya.
Dalam parade nanti sosok Kolonel Sungkono akan diperankan Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya. Sedangkan Rini Indriyani Ketua TP PKK Kota Surabaya akan berperan sebagai Ibu Pertiwi.
Soegiarto bersama para pejuang nantinya juga akan digambarkan meminta doa restu kepada Ibu Pertiwi sebelum menghadapi pasukan Sekutu. Setelah itu, rangkaian teatrikal dilanjutkan dengan pembacaan Sumpah Merdeka atau Mati dan prosesi pemberangkatan parade.
“Kan tokoh utamanya Soegiarto. Jadi kemudian diantar menuju markas itu bertemu dengan Kolonel Sungkono, kemudian sumpah bersama-sama untuk menghadapi ultimatum dan langsung perang 10 November itu,” ujar Heri.
Parade Menampilkan Perjalanan Sejarah Perjuangan Surabaya
Selain mengangkat perjuangan Soegiarto , Parade Surabaya Juang 2026 nantinya akan menyajikan rangkaian peristiwa sejarah secara kronologis, mulai dari lahirnya gerakan nasionalisme hingga pertempuran 10 November 1945.
Heri menjelaskan, Surabaya memiliki perjalanan panjang sebagai salah satu pusat pergerakan nasional. Karena itu, parade tidak hanya menampilkan pertempuran, tetapi juga tokoh dan peristiwa yang melatarbelakangi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
“Kita tarik bahwa Surabaya itu memang dapurnya nasionalisme, kepemimpinan yang bergerak menuju kemerdekaan itu. Banyak tokoh-tokoh perjuangan, tokoh-tokoh yang hadir dari Surabaya,” katanya.
Sejumlah tokoh yang akan ditampilkan antara lain HOS Tjokroaminoto, Dr. Soetomo, Cak Durasim, Bung Tomo, serta tokoh-tokoh perjuangan lainnya.
Rangkaian parade juga akan menggambarkan peristiwa pengibaran Merah Putih, perobekan bendera di Hotel Yamato, pembentukan kekuatan perjuangan rakyat, hingga keterlibatan para kiai melalui Resolusi Jihad.
Pada kesempatan yang sama, Herry Purwadi Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya mengatakan, tema Suroboyo Wani dipilih untuk menggambarkan karakter masyarakat Surabaya yang berani, egaliter, guyub, dan pantang menyerah.
Menurutnya, semangat keberanian tersebut perlu diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat saat ini, bukan hanya melalui keberanian menghadapi musuh seperti pada masa perjuangan kemerdekaan.
“Wani berjuang, wani belajar, wani membuat perubahan, wani inovasi, wani bereksperimen untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Nah, inilah watake arek-arek Surabaya. Sifate arek-arek Surabaya,” kata Herry Purwadi.
Herry menjelaskan, parade yang telah diselenggarakan sejak 2009 tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Surabaya bersama TNI, Polri, komunitas sejarah, pelajar, pemuda, hingga berbagai kelompok masyarakat.
Menurutnya, setiap barisan akan membawa cerita sesuai dengan lini masa perjuangan sehingga masyarakat bisa memahami hubungan antara peristiwa sebelum kemerdekaan, pertempuran mempertahankan kemerdekaan, hingga perjuangan generasi setelahnya.
“Jadi nanti di setiap barisan itu akan mengadegan atau berperan sesuai dengan lini waktu. Jadi misalnya di awal itu adalah persiapan kemerdekaan, kemudian pertempuran itu sendiri dan di garis terakhir atau di barisan terakhir adalah orang-orang yang sangat berhasil, para pemuda, baik itu olahraganya, budayawan,” jelas Herry. (bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100

