Selasa, 16 Juni 2026

Harga Minyak Dunia Kembali Naik Meski AS dan Iran Capai Kesepakatan Awal Damai

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Harga minyak mentah dunia naik. Foto: Anadolu

Harga minyak dunia kembali menguat pada Selasa (16/6/2026) setelah pelaku pasar mulai mempertanyakan efektivitas kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik yang mengguncang kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga juga didorong oleh kekhawatiran bahwa pemulihan pasokan minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling penting di dunia, tidak akan berlangsung secepat yang diharapkan.

Berdasarkan data perdagangan pagi, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 0,3 persen menjadi 83,39 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,5 persen ke level 81,12 dolar AS per barel.

Dilansir dari Reuters pada Selasa (16/6/2026), penguatan ini terjadi sehari setelah harga minyak anjlok hampir 5 persen. Penurunan tajam tersebut dipicu optimisme pasar menyusul pengumuman Donald Trump Presiden Amerika Serikat bahwa telah ditandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran.

Konflik tersebut sebelumnya menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan tersebut mengakibatkan sekitar 14 juta barel minyak per hari tidak dapat masuk ke pasar global.

Meski demikian, optimisme pasar mulai mereda karena rincian lengkap nota kesepahaman tersebut belum dipublikasikan. Selain itu, kesepakatan damai permanen antara kedua negara juga belum tercapai.

Informasi awal yang beredar menyebutkan kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Periode itu diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membahas isu-isu krusial, termasuk masa depan program nuklir Iran.

Masoud Pezeshkian Presiden Iran menyebut nota kesepahaman dengan Amerika Serikat sebagai langkah penting menuju penghentian konflik. Namun, ia menegaskan bahwa kesepakatan final untuk menciptakan perdamaian jangka panjang masih belum terbentuk.

“Kesepakatan awal memang menjadi langkah positif, tetapi pasar masih menunggu kejelasan mengenai detail implementasinya,” kata Tim Waterer Kepala Analis Pasar KCM Trade.

Menurut Waterer, ketidakjelasan isi perjanjian membuat pelaku pasar masih berhati-hati dalam mengurangi premi risiko yang selama ini melekat pada harga energi.

Sementara itu, seorang pejabat senior Iran mengungkapkan bahwa negaranya bersedia membekukan aktivitas nuklir sementara waktu hingga tercapai kesepakatan final. Langkah tersebut mencakup penghentian pengayaan uranium dan tidak memperluas fasilitas nuklir yang ada.

Meski jalur diplomasi mulai menunjukkan kemajuan, sejumlah analis menilai pemulihan pasokan minyak dunia masih menghadapi berbagai tantangan teknis dan keamanan.

Tony Sycamore analis pasar mengatakan normalisasi distribusi minyak dari kawasan Teluk tidak dapat dilakukan secara instan.

“Jalan menuju normalisasi pasokan masih jauh dari sederhana,” ujarnya.

Menurut Sycamore, proses pembersihan ranjau, pemulihan perlindungan asuransi maritim, hingga meyakinkan operator kapal untuk kembali beroperasi di kawasan Teluk membutuhkan waktu.

Selain itu, sumur minyak yang sempat ditutup dan infrastruktur energi yang terdampak konflik juga memerlukan proses pemulihan sebelum kembali beroperasi secara penuh. (saf/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Selasa, 16 Juni 2026
32o
Kurs