Jumat, 23 Oktober 2026

Prancis Larang Seluruh Demonstrasi di Marseille pada Hari Sabtu

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Kendaraan lapis baja milik Gendarmerie Nationale Prancis, terlihat di jalan di tengah bentrokan antara demonstran dan polisi anti huru hara Prancis selama demonstrasi menentang biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar di Marseille pada 17 Oktober 2026. Foto: Reuters

Pemerintah Prancis melarang seluruh aksi demonstrasi di wilayah Bouches-du-Rhone termasuk kota Marseille pada Sabtu (24/10/2026). Jacques Witkowski Kepala Prefektur di Marseille mengumumkan larangan itu mencakup demonstrasi yang telah diberitahukan secara resmi, maupun tidak.

“Seluruh demonstrasi, baik yang telah diberitahukan secara resmi maupun tidak, akan dilarang di seluruh departemen, termasuk aksi yang tidak berkaitan dengan daya beli masyarakat,” kata Witkowski, dilansir Antara, Jumat (23/10/2026).

Sebelumnya, Kepolisian Paris juga mengumumkan bahwa demonstrasi yang direncanakan berlangsung pada Kamis (22/10/2026) kemarin, telah dilarang di sejumlah kawasan strategis hingga pukul 20.00 waktu setempat (18.00 GMT).

Kawasan tersebut mencakup area di sekitar Istana Élysée, kedua gedung parlemen, stasiun-stasiun kereta utama, serta sejumlah wilayah pusat kota yang mengalami penjarahan pada akhir pekan lalu.

Seorang sumber kepolisian mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa larangan tersebut diperlukan karena penyelenggara demonstrasi dinilai tidak mampu mencegah kekerasan dan aksi perusakan. Larangan serupa juga diberlakukan terhadap demonstrasi yang direncanakan berlangsung pada Kamis di Lyon, Lille, dan Grenoble.

Pembatasan ini diberlakukan setelah lebih dari 500.000 orang turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis pada Sabtu lalu. Demonstrasi tersebut mempertemukan para pelajar yang menuntut perbaikan kondisi sekolah, dengan kelompok masyarakat yang memprotes tingginya biaya hidup.

Gérald Darmanin Menteri Kehakiman Prancis, mengatakan pada Kamis bahwa sedikitnya 2.700 orang telah ditahan setelah kerusuhan pecah di sejumlah wilayah dan sejumlah toko dijarah. Dari jumlah tersebut, 217 orang telah divonis dan dijebloskan ke penjara, sementara sekitar 1.000 orang lainnya sedang menjalani proses hukum.

Larangan diberlakukan untuk alasan keamanan yang jelas dan ketersediaan pasukan keamanan dalam negeri. Kebijakan ini sejalan dengan arahan Emmanuel Macron Presiden Prancis yang merekomendasikan tidak ada demonstran dalam beberapa hari ke depan, kecuali aksi yang diorganisir oleh serikat pekerja.

Sejumlah demonstrasi, termasuk aksi pawai di Lyon, juga akan dilarang. Pemerintah daerah mengambil keputusan itu setelah kerusuhan yang berlangsung selama berjam-jam yang menyebabkan lebih dari 200 toko dijarah.

Selain pelarangan demonstrasi, otoritas Marseille menerapkan sejumlah pembatasan tambahan. Seluruh layanan transportasi umum dihentikan mulai Sabtu (24/10/2026) pukul 05.00 hingga, Minggu (25/10/2026), pukul 05.00 di aglomerasi Marseille dan rute menuju kawasan niaga seperti Plan-de-Campagne, Vitrolles, Aubagne, dan Miramas.

Pemerintah daerah setempat juga memperluas jam malam yang sebelumnya hanya berlaku bagi anak di bawah umur menjadi berlaku bagi seluruh warga. Jam malam diberlakukan mulai Sabtu pukul 23.00 hingga Minggu pukul 05.00 dan mencakup area gedung publik seperti balai kota, prefektur, dan pengadilan.

Otoritas juga melarang penggunaan peralatan pelindung diri, pengangkutan bahan bakar, serta penjualan dan pengangkutan senjata tajam.

Langkah pengamanan masif ini diambil setelah aksi protes pada akhir pekan lalu yang diikuti lebih dari setengah juta orang di seluruh Prancis berujung pada kerusuhan dan penjarahan lebih dari 200 toko.

Pemerintah Prancis turut mengumumkan bahwa Museum Louvre, Musée d’Orsay, dan Museum Picasso di Paris akan ditutup pada Sabtu karena adanya rencana demonstrasi baru.(ant/fia/bil/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Jumat, 23 Oktober 2026
35o
Kurs