Ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya kembali menggelar aksi di kampus dengan membawa tuntutan yang sama, yakni 1+7, sampai ditemui Akhmad Muzakki Rektor UINSA.
Pantauan suarasurabaya.net pada pukul 12.00 WIB, kondisi di kampus UINSA sudah cukup kondusif. Aksi bakar-bakar sejumlah benda yang dilakukan di depan masjid dan depan gedung rektorat juga sudah padam.
Berdasar informasi yang dihimpun, aksi mahasiswa dimulai sejak pukul 10.00 WIB. Hingga siang hari, mereka tak kunjung ditemui oleh Akhmad Muzakki.
Koko Prakoso Koordinator Aksi menjelaskan, aksi hari ini merupakan kelanjutan dari aksi kemarin. Tuntutan yang diajukan pun sama. Paling utama, mereka meminta Akhmad Muzakki turun dari jabatan Rektor UINSA.
“Untuk tuntutan hari ini ya, sama saja seperti kemarin, 1 plus 7. Yang mana tuntutan pertama adalah copot atau turun secara mandiri Muzakki yang dilantik kembali menjadi Rektor. Dan tujuh tuntutan seterusnya adalah perilaku atau kegiatan buruk yang dibuat oleh Muzakki. Sama seperti kemarin, 1 plus 7,” katanya ditemui awak media, Kamis (17/9/2026).

Adapun tujuh tuntutan lainnya yakni, mendesak pimpinan UINSA memberikan pernyataan publik terkait Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) yang baru terbentuk pada 2025.
“Kami menilai selama tiga tahun kampus tidak menjalankan mandat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan hal itu mengindikasikan adanya dugaan korupsi,” ungkapnya.
Kedua, mahasiswa menuntut pengusutan tuntas kasus Kopertais yang menurut mereka melibatkan Akhmad Muzakki Rektor UINSA sebagai tersangka.
Ketiga, mahasiswa meminta adanya klarifikasi sekaligus kepastian tenggat waktu penyelesaian terkait keterlambatan pembagian buku, Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), dan almamater mahasiswa baru.
Keempat, menuntut pertanggungjawaban atas penerimaan mahasiswa baru yang dinilai terlalu banyak hingga berdampak pada keterbatasan fasilitas kampus.
Kelima, mahasiswa mendesak penghapusan kebijakan jam malam yang menurutnya tidak mendukung kebutuhan nonakademik mahasiswa.
“Kami juga menuntut pertanggungjawaban terkait kebijakan penentuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa baru yang mereka nilai tidak berpihak kepada mahasiswa dari kelompok menengah ke bawah,” jelasnya.
Dan yang terakhir, mahasiswa juga meminta tidak ada mekanisme peminjaman tempat di lingkungan kampus yang dipersulit lagi.
Koko menegaskan bahwa sampai saat ini massa aksi belum ditemui oleh Muzzakki yang infonya sedang menemui seseorang dari Jakarta untuk kunjungan ke Jombang dan tulungagung.
“Kami berharap agar Muzakki segera menemui massa aksi. Karena jika tidak kami akan kembali melakukan aksi serupa sampai tuntutan kamo dipenuhi,” tutupnya.(kir/lta/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

