“Teknologi sekarang ini bekerja cepat sekali, membuat kampus itu memang ketinggalan. Mau secanggih apapun, kalau kita lihat itu yang cepat itu (hanya) memperbaiki layanan mahasiswa yang bisa disediakan secara online. (Sementara) dari segi kurikulum semuanya ketinggalan. Hanya tergantung pada dosen tertentu yang mengajar di kelas yang memberikan materi-materi dengan pembaharuan,” katanya.
Ia kemudian menceritakan pada periode kedua pemerintahan Joko Widodo Presiden ke-7 RI 2019 silam, ia pernah menyampaikan perlunya reformasi pendidikan karena jurusan dan silabus perguruan tinggi tidak banyak berubah.
“Saya pernah menyampaikan Pak Jokowi reform pendidikan. Saya sampaikan bahwa jurusan-jurusan yang ada sejak zaman saya kuliah sampai sekarang tidak berubah di perguruan tinggi. Bahkan silabus yang banyak dipakai oleh para dosen itu masih sama,” ujarnya.
Tantangan itu pun semakin besar dengan hadirnya AI. Rhenald melihat mahasiswa sudah menggunakan teknologi itu dalam aktivitas akademik, sementara sebagian pengajar masih menolaknya.
“Saya beri contoh aja deh mengenai AI hari ini. Dapat dikatakan 90 persen dosen itu anti AI. 90 persen. karena AI itu dianggap membodohi mahasiswa ya, membuat mahasiswa menjadi lebih mudah dan sebagainya. Tapi 99 persen mahasiswa itu menggunakan AI, dan mereka akan bekerja dengan AI di masa depan,” ungkapnya.

NOW ON AIR SSFM 100

