Namun, meningkatnya permintaan dolar AS juga berisiko memperketat likuiditas valuta asing di pasar domestik apabila kebutuhan dolar tidak diimbangi ketersediaan pasokan yang memadai.
Dilansir dari Antara, tekanan terhadap rupiah juga berlangsung di tengah pelemahan pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hingga menembus level 5.300, mencerminkan tekanan pada pasar keuangan domestik.
Di pasar obligasi, pergerakan imbal hasil menunjukkan fenomena inversi kurva imbal hasil. Kondisi ini terjadi ketika imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor tertentu yang lebih panjang justru lebih rendah dibandingkan tenor yang lebih pendek. Dalam kondisi yang dilaporkan, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun tercatat di bawah tenor 8 hingga 9 tahun.
Meski demikian, sejumlah faktor eksternal berpotensi menahan pelemahan rupiah. Faktor tersebut meliputi penurunan harga minyak mentah dunia, turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve atau The Fed.
Sebelumnya, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun 1,51 dolar AS atau 1,46 persen menjadi 101,76 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
NOW ON AIR SSFM 100

