Lembaga Survei Poltracking Indonesia merilis hasil survei tentang pelaksanaan program prioritas pemerintahan Prabowo Subianto Presiden dan Gibran Rakabuming Raka Wakil Presiden RI, Senin (31/8/2026).
Hanta Yuda AR Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia menjelaskan, salah satu program yang disurvei adalah Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinaungi oleh lembaga Badan Gizi Nasional (BGN).
Proses survei diawali dari lembaga BGN sebagai pelaksana program tersebut. Hanta mengungkap, skor kepuasan publik terhadap lembaga BGN mengalami penurunan sejak Oktober 2025.
Mulanya persepsi publik terhadap BGN cukup positif pada Oktober 2025 yang mencapai 57 persen. Namun seiring berjalannya waktu, tingkat kepuasan publik kepada BGN merosot jadi 41,6 persen pada Agustus 2026.
“BGN tingkat kepuasannya relatif rendah. Ini menunjukkan bahwa kinerja dalam trennya pada Oktober 2025 mencapai 57 persen, 50,6 persen pada Maret 2025, 54,6 persen Mei 2026, semakin turun menjadi 41,7 persen Juli 2026 dan 41,6 persen pada Agustus 2026,” ujar Hanta dalam konferensi pers melalui live YouTube Poltracking Indonesia.
“Jadi ada tren dengan tingkat penurunan pada BGN,” tambahnya.
Kemudian pada tingkat popularitas terhadap program MBG, Poltracking menyebut angkanya sangat tinggi, yakni 93,9 persen. Hanta menjelaskan, skor itu menunjukkan bahwa publik mengetahui program prioritas Prabowo tersebut cukup tinggi.
Selanjutnya dalam penilaian program MBG, Hanta mengungkap terdapat 49,2 persen publik mengaku tidak puas dengan program itu. Sedangkan 46,4 persen sisanya puas.
Hanta menyatakan, nilai ketidakpuasan publik kepada program MBG menjadi catatan kritis bagi pemerintah, supaya diperbaiki implementasinya.
“Kita tanyakan penilaiannya pada program MBG, ternyata ini kabar kurang baiknya. Saya kira ini catatan kritis bagi pemerintah untuk memperbaiki yang menilai kurang puasnya 49,2 persen sementara yang puas 46,4 persen,” ujarnya.
Meski demikian, Hanta menyebut gagasan program MBG mulanya mendapat respon positif dari masyarakat. Namun seiring implementasinya yang dianggap banyak menimbulkan persoalan, akhirnya mendapat persepsi negatif dari publik.
“Lagi-lagi MBG ini bisa dikatakan rapor merah peringatan penting bagi pemerintah untuk diperbaiki dari sisi penyelenggaraan, meskipun program awalnya diapresiasi positif tetapi karena eksekusi dalam persepsi publik menjadi negatif,” ungkapnya.
Selain itu, Poltracking juga mengungkap sebanyak 44,6 persen masyarakat menginginkan supaya program MBG dihentikan saja, sedangkan 42,1 persen ingin diteruskan, serta 13,3 persen tidak menjawab.
“Survei ini juga menanyakan apakah program ini perlu dilanjutkan, ternyata sudah cross yang publik menginginkan tidak perlu dilanjutkan ada 44,6 persen dan yang ingin diteruskan 42,1 persen, serta 13,3 persen tidak tahu/tidak jawab,” ungkapnya.
Hanta membeber, terdapat tiga faktor utama mengapa publik tidak ingin program MBG dilanjutkan. Faktor pertama karena kualitas rasa dan gizi makanan tidak sesuai dengan skor 19,6 persen.
Selanjutnya faktor kedua karena kurang cocok lauk yang diinginkan dengan skor 19,6 persen dan ketiga karena masih banyaknya kasus keracunan dengan skor 12,1 persen. “Tiga isu menjadi faktor utama alasan publik merekomendasikan tidak dilanjutkan,” jelasnya.
Sebagai informasi, Survei Poltracking menggunakan metode multistage random sampling dengan teknik wawancara tatap muka pada 14-20 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.220 responden dan margin of erorr 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.(wld/bil/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

