Selasa, 28 April 2026

Tips Penting bagi Jemaah Haji saat Tiba di Bandara Madinah

Laporan oleh Widya Safitri
Bagikan
Kapten Marinir Denny Rian Nugraha Kepala Regu 1 Daker Bandara (kiri) ketika membantu jemaah calon haji dari Indonesia di Bandara Madinah. Foto: Widya suarasurabaya.net

Kedatangan jemaah haji Indonesia di Bandara Madinah terus meningkat. Hingga Selasa (28/4/2026) hari ini, tercatat sekitar 38.000 jemaah telah tiba di Tanah Suci melalui bandara tersebut.

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) pun mengingatkan sejumlah hal penting yang wajib diperhatikan jemaah, terutama terkait alur kedatangan, barang bawaan, hingga kondisi kesehatan.

Kapten Marinir Denny Rian Nugraha Kepala Regu 1 Daker Bandara menjelaskan, sistem kedatangan jemaah dibagi menjadi dua skema, yakni jalur fast track (Mecca Route) dan jalur reguler melalui terminal haji.

“Untuk jemaah yang melalui fast track, setelah pesawat mendarat, mereka langsung menuju pemeriksaan X-ray tanpa proses imigrasi, kemudian keluar bandara dan naik bus menuju hotel masing-masing,” ujar Denny kepada Radio Suara Surabaya.

Sementara itu, bagi jemaah non-fast track, proses kedatangan berlangsung lebih panjang. Setelah mendarat, jemaah harus melalui pemeriksaan imigrasi, dilanjutkan dengan pemeriksaan X-ray sebelum menuju area paviliun.

Di paviliun, jemaah dapat beristirahat sekitar 30 menit. Fasilitas yang tersedia meliputi ruang ber-AC, musala, toilet, serta tempat duduk yang memadai.

Ia menambahkan, waktu tunggu untuk jemaah non-fast track berkisar antara 30 menit hingga satu jam, tergantung situasi di lapangan.

Namun demikian, sejumlah kendala masih ditemukan dalam proses kedatangan. Salah satu yang paling sering terjadi adalah barang jemaah yang tertinggal, baik di pesawat maupun di area bandara.

“Kami masih menemukan banyak barang jemaah yang tertinggal. Kami mengimbau agar jemaah memeriksa kembali seluruh barang bawaan sebelum meninggalkan pesawat dan bandara, terutama tas paspor,” tegasnya.

Denny juga mengingatkan agar tas paspor tidak dititipkan kepada orang lain. Hal ini penting karena setiap jemaah harus menjalani proses pemindaian barcode visa sebelum diberangkatkan ke hotel.

Selain itu, aspek kesehatan menjadi perhatian serius. Perjalanan udara yang memakan waktu hingga sepuluh jam kerap membuat kondisi fisik jemaah menurun saat tiba di Madinah.

Oleh sebab itu, jemaah diharapkan menjaga stamina, baik fisik maupun mental. Sebab ada banyak jemaah yang mengalami kelelahan setelah perjalanan panjang.

Perhatian khusus juga diberikan kepada jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas. Mereka biasanya diturunkan paling akhir dari pesawat dan membutuhkan pendampingan intensif.

“Kami meminta pendamping, baik dari kloter maupun rombongan, untuk benar-benar memastikan jemaah lansia dan disabilitas mendapatkan pendampingan. Jika tidak ada, petugas bandara siap membantu,” ujarnya.

Terkait dokumen ibadah, bagi jemaah yang belum menerima kartu nusuk, petugas memastikan kartu tersebut akan dibagikan di hotel masing-masing.

Di sisi lain, Denny menekankan pentingnya kedisiplinan dalam mengikuti aturan transportasi yang ditetapkan otoritas Arab Saudi. Ia mengungkapkan adanya kendala keterlambatan keberangkatan bus akibat jemaah menunggu anggota rombongan yang belum lengkap.

“Bus bisa tertunda hingga 30 menit hanya karena menunggu satu atau dua orang. Kami imbau jemaah segera mengisi bus yang tersedia agar proses pemberangkatan tidak terhambat,” jelasnya.

Ia menambahkan, setiap bus akan diberangkatkan sesuai kapasitas kursi yang telah ditentukan, yakni antara 40 hingga 45 penumpang. Penataan jemaah ke hotel juga akan diatur oleh pihak syarikat bekerja sama dengan petugas haji.

Langkah ini dilakukan untuk menghindari penumpukan di area bandara dan memastikan pelayanan berjalan cepat serta efisien. (saf/iss/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Selasa, 28 April 2026
29o
Kurs