Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) terus berupaya menghapus label bahwa ibadah haji hanya untuk kelompok lanjut usia. Kini, BPKH mulai beralih fokus dengan membangun komunikasi dan literasi finansial ke ruang-ruang publik modern untuk menjangkau generasi muda, khususnya Gen Z.
Menurut Harry Alexander Anggota Badan Pelaksana BPKH, literasi terkait ibadah haji di kalangan masyarakat awam dan anak muda, dinilai masih perlu didorong secara masif.
“Kalau kita lihat anak muda di lingkungan pesantren, mungkin mereka lebih aware ya. Tapi di luar lingkungan itu, beberapa pihak perlu memberikan dorongan lebih lagi,” katanya, Kamis (3/9/2026).
Harry menerangkan, generasi muda belum mendapatkan edukasi yang memadai mengenai pentingnya perencanaan haji sejak dini.
“Sehingga banyak di antara mereka yang belum sadar kalau kriteria istitha’ah atau kemampuan berhaji secara finansial sebenarnya sudah dapat terpenuhi ketika seseorang memiliki aset atau dana simpanan tertentu,” ungkapnya.

Untuk menjangkau kelompok ini, BPKH merancang pendekatan lewat gaya hidup yang dinilai lebih dekat dengan anak muda.
Dalam kajian yang dilakukan oleh BPKH, pelaksanaan kegiatan literasi dan kampanye keuangan haji fokus dilakukan di pusat-pusat keramaian seperti mal dan pusat perbelanjaan, agar lebih relevan dengan ekosistem keseharian Gen Z.
“Nah, salah satu langkah konkret yang didorong adalah dengan pengalihan alokasi dana darurat atau simpanan mengendap menjadi setoran awal porsi haji sebesar Rp25 juta. Dengan ini, masyarakat tidak kehilangan fungsi dana daruratnya karena tetap dapat diambil jika terjadi kondisi mendesak, namun di sisi lain sudah mengamankan nomor porsi pendaftaran haji lebih awal,” jelasnya.
Selain kepastian porsi, dana setoran awal jemaah yang dikelola BPKH juga memberikan nilai tambah (yield) yang kompetitif. Harry menjelaskan, selama masa tunggu nilai manfaat yang dihasilkan dari pengolahan dana syariah dialokasikan kembali untuk mendukung pembiayaan porsi jemaah, sehingga nilai simpanan tetap bertumbuh secara optimal.
“Dari total dana kelolaan yang saat ini mencapai sekitar Rp189 triliun, BPKH menerapkan strategi investasi yang prudent, syariah, dan aman. Portofolio investasi dialokasikan sebesar 75 persen pada instrumen investasi seperti Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), sukuk korporasi, serta investasi di lembaga keuangan internasional, sedangkan 25 persen sisanya ditempatkan pada perbankan syariah,” tambahnya.
Menurut Harry, kinerja keuangan yang solid ini menjadi fondasi kuat bagi BPKH untuk memberikan nilai manfaat yang maksimal bagi seluruh jemaah, termasuk generasi muda yang baru mendaftar.
Melalui perpaduan antara literasi keuangan yang inklusif, strategi komunikasi berbasis lifestyle, dan tata kelola investasi syariah yang akuntabel, BPKH optimistis dapat mendorong kesadaran Gen Z untuk mulai merencanakan ibadah haji sejak usia muda tanpa mengganggu fleksibilitas finansial.(kir/bil/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

