Sabtu, 4 Juli 2026

Uskup Surabaya Terima Kunjungan Puluhan Bhikkhu Thudong, Tekankan Semangat Toleransi

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo Uskup Surabaya saat menyambut kedatangan Bhikkhu di Gereja Katedral HKY Surabaya, Jumat (15/5/2026). Foto: Rafi’ Ermawan Mg suarasurabaya.net

Sebanyak 58 Bhikkhu Thudong yang melakukan perjalanan perdamaian, menyempatkan untuk berhenti di beberapa titik di Kota Surabaya.

Selain berhenti di Gedung Negara Grahadi dan Balai Kota Surabaya, puluhan Bhikkhu juga berhenti di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya, Jumat (15/5/2026) sore.

Kedatangan para Bhikkhu di Gereja Katedral HKY disambut langsung oleh Mgr Agustinus Tri Budi Utomo Uskup Surabaya atau yang akrab disapa Romo Didik.

Menurut Romo Didik, kehadiran para Bhikkhu sekaligus menjadi simbol nyata bahwa persaudaraan tidak mengenal batas sekat agama maupun latar belakang.

“Ya, kami sungguh bersyukur, ya. Dan teman-teman media banyak yang datang. Artinya apa? Gaung pesan perdamaian mereka akan semakin meluas,” katanya.

Suasana di Gereja Katedral HKY saat kedatangan rombongan Bhikkhu dalam perjalanan Walk for Peace. Surabaya, Jumat (15/5/2026). Foto: Rafi’ Ermawan Mg suarasurabaya.net
Suasana di Gereja Katedral HKY saat kedatangan rombongan Bhikkhu dalam perjalanan Walk for Peace. Surabaya, Jumat (15/5/2026). Foto: Rafi’ Ermawan Mg suarasurabaya.net

Kedatangan para Bhikkhu ini juga sebagai simbol bahwa seluruh umat beragama di dunia ini, memiliki rasa kerinduan yang sama tentang perdamaian di Indonesia dan di bumi ini.

Menurut Romo Didik, perjalanan yang dilakukan para Bhikkhu seperti aksi demo terbaik.

“Mereka diam, tidak banyak bicara. Tapi rasanya sepeerti sedang berteriak keras untuk mewujudkan perdamaian, pesan perdamaian,” ungkapnya.

Seorang biarawati menyapa bhikkhu di Gereja Katedral HKY Surabaya, Jumat (15/5/2026). Foto: Rafi’ Ermawan Mg suarasurabaya.net
Seorang biarawati menyapa bhikkhu di Gereja Katedral HKY Surabaya, Jumat (15/5/2026). Foto: Rafi’ Ermawan Mg suarasurabaya.net

Dalam pertemuan itu, Romo Didik juga menjelaskan bahwa konsep perjalanan ziarah dengan berjalan kaki juga dianut oleh umat Katolik tradisi kuno. Yang mana perjalanan itu dilakukan dari batas Perancis Selatan sampai ke ujung Spanyol atau disebut sebagai Camino de Santiago.

“Tahun lalu, Paus Fransiskus juga mencanangkan Yubileum Pengharapan. Salah satu aktivitasnya adalah berjalan ziarah. Lalu kata yang didengungkan, membangun sinodalitas, yaitu berjalan bersama dengan siapa pun yang berkehendak baik untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Itu yang juga sedang kami hayati saat ini,” jelasnya.

Romo Didik berharap umat Katolik bisa menghayati makna sinodalitas ini dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Supaya kita berjalan bersama siapa saja, tidak pandang bulu agamanya apa atau latar belakangnya apa. Yang penting adalah berjalan bersama untuk mewujudkan dunia yang lebih baik,” tutupnya.(kir/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Sabtu, 4 Juli 2026
24o
Kurs