Virus Hanta atau hantavirus yang belakangan ramai usai ditemukannya dua kasus di kapal pesiar MV Hondius yang membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turun tangan, turut menyita perhatian dalam negeri.
Salah satunya dr. Ari Baskoro Spesialis Penyakit Dalam dan Imunolog Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Dia menjelaskan, virus Hanta sebenarnya bukan penyakit baru. Namun, virus ini relatif jarang dibahas di masyarakat umum maupun di dunia medis.
Ia menjelaskan, virus Hanta pertama kali dikenal luas saat Perang Korea tahun 1950-1953. Kala itu ribuan tentara Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengalami infeksi misterius dengan gejala perdarahan dan gangguan ginjal.
“Melalui riset yang cukup panjang, penyebabnya dapat diidentifikasi pada tahun 1976-1978. Virus Hanta (Hantaan virus/HNTV) adalah biang keladinya,” tulisnya dalam catatan yang diterima suarasurabaya.net, Jumat (8/5/2026).
Menurut dr. Ari, virus Hanta memiliki beberapa strain dengan dampak berbeda. Salah satunya HFRS (hemorrhagic fever with renal syndrome) yang memicu demam berdarah dan gagal ginjal akut.
“HFRS menyiratkan makna demam berdarah dan gagal ginjal akut, sebagai manifestasi utamanya. Angka kematiannya mencapai sekitar satu hingga 15 persen,” jelasnya.
Sementara strain lain bernama HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) disebut lebih berbahaya karena menyerang paru-paru dan sistem pernapasan.
“Gagal napas yang memerlukan penatalaksanaan intensif dengan bantuan ventilator, menjadi risiko utamanya. Mortalitasnya mencapai sekitar 40 persen,” lanjut dr. Ari.
Ia menyebut, Indonesia juga pernah mencatat kasus virus Hanta. Tepatnya pada periode 15-21 Juni 2025, terdapat sedikitnya delapan kasus yang terdeteksi di Jawa Barat, DIY, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara.
Penularan virus Hanta paling sering berasal dari tikus dan ekskretanya. Campuran debu, urine, serta kotoran tikus yang mengering dapat terhirup manusia dan masuk ke saluran pernapasan.
“Campuran debu, air kencing, dan kotoran tikus yang mengering, dapat terhirup memasuki saluran napas manusia,” tulisnya.
Meski begitu, penularan antarmanusia tergolong sangat jarang. dr. Ari menyebut hanya strain Andes yang diketahui bisa menular dari manusia ke manusia, dan sifatnya sangat virulen atau ganas.
Imunolog Unair itu juga mengingatkan kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi terpapar virus Hanta, seperti petani, pekerja perkebunan, hingga petugas kebersihan saluran air dan sampah.
Gejala virus Hanta sendiri bisa berkembang cepat. Pada strain HPS, gejala awal kerap menyerupai flu biasa sebelum berubah menjadi gangguan pernapasan berat.
“Selanjutnya gangguan pernapasan dapat berkembang dengan cepat. Pada fase ini, gambaran klinis yang tampak adalah sesak napas, sembab paru, hipotensi, dan syok,” tulisnya.
Hingga saat ini belum tersedia obat antivirus spesifik maupun vaksin untuk virus Hanta. Karena itu, langkah pencegahan dinilai menjadi kunci utama.
“Mencegah lebih baik daripada mengobati, masih proporsional diterapkan untuk menghadapi HNTV. Meminimalkan kontak dengan tikus, merupakan tindakan preventif terbaik,” tegasnya.
Ia menambahkan ventilasi rumah yang baik, paparan sinar matahari, penggunaan alat pelindung diri, dan kebiasaan mencuci tangan juga penting untuk mengurangi risiko penularan.
Meski penularan antarmanusia dinilai terbatas, dr. Ari tetap meminta kewaspadaan terus ditingkatkan agar virus Hanta tidak berkembang menjadi wabah yang lebih luas.
“Berdasarkan cara penularan antar manusia yang memerlukan kontak erat, diprediksi virus Hanta tidak akan memicu epidemi,” pungkasnya. (bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

