Kamis, 7 Mei 2026

WHO Ungkap Penyebaran Hantavirus Masih Relatif Rendah

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Ilustrasi - Hantavirus. Foto: Scientific Animations, Inc.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan penyebaran hantavirus masih relatif rendah, usai beredar berita mengenai kasusnya di antara penumpang kapal Hondius di Samudra Atlantik.

“Pada tahap ini, risiko kesehatan masyarakat (terkait hantavirus) relatif rendah,” tulis Tedros Adhanom Ghebreyesus Direktur Jenderal WHO di platform media sosial X, Rabu (6/5/2026).

Melansir Antara, WHO menyatakan tekanan hantavirus Andes terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius yang diagnosisnya telah dikonfirmasi oleh tes di lembaga-lembaga Afrika Selatan dan Swiss.

Jumlah total terkonfirmasi infeksi hingga delapan kasus setelah satu kasus tambahan diidentifikasi pada seorang pasien yang telah kembali ke Swiss. Tiga di antara delapan kasus tersebut dinyatakan meninggal dunia.

Menanggapi temuan itu, Spanyol memustuskan akan menerima kapal yang saat ini berlayar di sekitar Tanjung Verde untuk berlabuh di Kepulauan Canary berdasarkan hukum internasional.

Ketika tiba di Kepulauan Canary, para penumpang dan awal kapal akan melakukan sejumlah pemeriksaan medis yang ditangani melalui fasilitas dan sistem transportasi khusus untuk penanganan dan pemindahan agar terhindar dari kontak dengan populasi setempat.

Langkah-langkah ini diterapkan sesuai protokol penanganan kasus dan kontak terpadu yang dikembangkan WHO bersama Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) dalam pemastian jaminan keselamatan yang diperlukan.

Untuk diketahui, laman WHO menyebut hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan hewan pengerat melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan yang terinfeksi dan dapat mengakibatkan penyakit parah pada manusia.

Selain itu, gigitan hewan pengerat juga dapat menjadi sumber infeksi tetapi dengan intensitas yang lebih jarang dibanding saluran penularan lain.

Gejala awal hantavirus berupa flu yang muncul dalam satu hingga delapan minggu setelah paparan, yaitu demam dan menggigil, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, dan diare. Pada tahap lanjut, penderita akan mengalami sulit bernapas karena paru-paru terisi cairan.(ant/vve/kir/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Kamis, 7 Mei 2026
33o
Kurs