Sabtu, 4 Februari 2023

Erick Thohir: Dari Segi Anggaran, Indonesia Memungkinkan Ikut Bidding Tuan Rumah Piala Dunia

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Erick Thohir (kiri) Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat bertemu dengan Gianni Infantino Presiden FIFA di Doha, Qatar, Rabu (5/10/2022). Foto: Antara

Erick Thohir Menteri BUMN sekaligus tokoh olahraga nasional berbicara mengenai peluang Indonesia mengikuti bidding tuan rumah Piala Dunia, mengikuti jejak negara Asia yang pernah menjadi tuan rumah edisi sebelumnya.

Mengutip Antara, Sabtu (3/12/2022), Erick bilang Indonesia perlu menyiapkan segalanya kalau ingin mengikuti bidding tuan rumah Piala Dunia, terutama pembinaan tim nasional.

Dari segi anggaran, pria yang juga Anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengatakan, Indonesia tidak perlu khawatir. Karena Indonesia diproyeksikan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat dunia tahun 2045.

Setelah Qatar 2022, Piala Dunia FIFA 2026 akan berlangsung di tiga negara, yaitu Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Sementara tuan rumah pada tahun 2030 akan diumumkan pada 2024.

“Kesiapan ada. Dana juga ada. Bukan pemborosan, tapi dana ada. Kemarin Pak Jokowi mengajukan Ibu Kota Negara (IKN) bidding tuan rumah Olimpiade 2036. Indonesia akan mempunyai ibu kota baru, fasilitas yang makin bagus. Ekonomi masuk empat terbesar pada 2045. Jadi, uangnya ada sebenarnya asal jangan dikorupsi. Jadi, kalau Indonesia ikut bidding Piala Dunia 2040 bukan tidak mungkin,” ujar Erick.

Walau dari segi infrastruktur dan dana sudah siap, ucap Erick, Indonesia tetap sulit untuk maju dan memenangi bidding tuan rumah kalau prestasi Timnas Indonesia di level internasional masih minim.

“Sekarang yang paling krusial adalah timnasnya. Kami juga tidak mau menjadi tuan rumah tapi kalah sampai 0-7 di pertandingan pertama,” tutur mantan Presiden Inter Milan itu.

Dia juga menyinggung pencapaian Jepang dan Korea Selatan yang bisa menembus dominasi Eropa dan Amerika Serikat. Dua tim sepak bola Asia itu pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 dan saat ini berhasil tembus babak 16 besar Piala Dunia 2022, Qatar.

Erick menilai, hasil tersebut didapat dari pembinaan yang dilakukan secara kontinyu dan membutuhkan waktu selama 20-30 tahun.

Sementara itu, para pemain Indonesia kurang diberi kesempatan berkompetisi di klub karena kalah saing dengan pemain naturalisasi.

“Jepang itu persiapan timnasnya 20-30 tahun. Artinya harus cari rekrut pemain terbaik lalu diberi kesempatan bermain di klub atau sekalian seperti di basket membuat timnas bermain di liga tetapi diisi pemain muda karena mereka harus diberi kompetisi. Dengan ratusan pemain sepak bola lalu bermain di kompetisi, berlatih setelah kompetisi, diberi kesempatan bermain di klub. Ini yang harus kita lakukan. Bagaimana kita mau punya timnas yang bagus, fasilitas lapangan latihan belum maksimal. Kompetisi untuk pemain muda tidak maksimal dan kebanyakan pemain naturalisasi,” paparnya.

“Saya bukan tidak suka naturalisasi. Tapi, jika satu klub pemain naturalisasinya banyak, maka kita harus saling jaga, kita harus duduk bersama klub bagaimana menerapkan strategi menempatkan pemain muda, pemain asing, dan naturalisasi,” pungkasnya.(ant/tik/rid)

Berita Terkait