Persebaya Surabaya mengawali musim 2026/2027 dengan fondasi yang mulai menunjukkan hasil. Skuad dibangun lebih awal, kebijakan transfer dilakukan secara terukur, dan investasi pada aspek pendukung performa pemain terus diperkuat.
Buah dari pendekatan tersebut terlihat pada keberhasilan Persebaya menjuarai Piala Presiden 2026. Bajul Ijo juga mencatatkan rekor tidak terkalahkan dalam tujuh pertandingan pramusim sebagai modal menghadapi kompetisi musim baru.
Perjalanan Persebaya kemudian mendapat perhatian dari Rendra Soedjono analis sepak bola. Pria yang akrab disapa Rensu itu menilai Bajul Ijo mulai menunjukkan karakter sebagai klub sepak bola yang dikelola dengan pendekatan bisnis modern.
Rensu menyebut Persebaya sebagai salah satu pionir klub berbasis bisnis di sepak bola Indonesia. Menurut dia, kekuatan Persebaya tidak semata-mata berasal dari kemampuan finansial pemilik klub, tetapi dari upaya membangun sistem yang memungkinkan klub beroperasi secara sehat dan terukur.
Persebaya sendiri selama ini bukan klub yang dikenal agresif menghamburkan dana di bursa transfer. Manajemen justru dinilai cenderung berhitung dalam menentukan kebutuhan skuad dan mengalokasikan anggaran.
Strategi tersebut membuat Persebaya tidak harus mengejar popularitas melalui transfer pemain besar-besaran. Pemain direkrut berdasarkan kebutuhan tim dan kemampuan anggaran yang tersedia.
Pendekatan itu dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan membangun skuad dengan biaya tinggi tanpa memperhitungkan kemampuan klub memenuhi kewajiban finansial sepanjang musim.
Rensu juga menyoroti pembagian fungsi dalam pengelolaan Persebaya. Sektor bisnis dan manajemen bertanggung jawab terhadap operasional klub, sedangkan sektor sepak bola berfokus pada aspek teknis serta performa tim.
Pemisahan fungsi tersebut dinilai menjadi salah satu ciri pengelolaan klub profesional. Dengan model itu, urusan bisnis dan sepak bola dapat berjalan beriringan tanpa harus mengandalkan keputusan pemilik untuk setiap aspek pengelolaan klub.
Menurut Rensu, ada anggapan yang masih keliru dalam sepak bola Indonesia, yakni menyamakan kekayaan pemilik dengan kesehatan finansial klub.
Kemampuan finansial seorang owner memang dapat menjadi modal penting. Namun, klub tetap membutuhkan sumber pemasukan dan bisnis yang mampu menopang operasional secara berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, Persebaya dinilai sedang berupaya membangun fondasi bisnis agar keberlangsungan klub tidak sepenuhnya bergantung pada suntikan dana pemilik.
Biaya mengelola klub sepak bola profesional juga tidak hanya berkaitan dengan gaji dan transfer pemain. Klub harus menanggung berbagai kebutuhan, mulai dari pertandingan kandang dan tandang, perjalanan, katering, operasional tim, hingga kebutuhan teknis lainnya.
Karena itu, efisiensi anggaran menjadi bagian penting dalam membangun skuad. Penghematan pada satu pos, termasuk perekrutan pemain asing, dapat memberikan ruang finansial untuk memenuhi kebutuhan lain selama satu musim kompetisi.
Selain aspek bisnis, Persebaya juga mendapat sorotan karena mulai memperkuat investasi di bidang sport science.
Pendekatan tersebut memungkinkan klub mendapatkan data mengenai kondisi fisik pemain, termasuk kekuatan otot, agility, kapasitas VO2 max, kualitas pergerakan, hingga potensi risiko cedera.
Data tersebut kemudian dapat menjadi bagian dari pertimbangan dalam menyusun program latihan, treatment, nutrisi, maupun keputusan terkait perekrutan pemain.
Dengan demikian, penilaian terhadap pemain tidak hanya didasarkan pada performa ketika bertanding. Kondisi fisik dan potensi risiko kesehatan juga menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
Pendekatan sport science yang dikembangkan Persebaya disebut mengingatkan pada konsep Milan Lab milik AC Milan. Sistem tersebut dikenal dengan pendekatan preventif, yakni tidak hanya menangani cedera setelah terjadi, tetapi berupaya mengidentifikasi potensi persoalan fisik sejak awal.
Bagi klub profesional, pendekatan tersebut dapat mengurangi risiko ketika merekrut pemain. Masalah fisik yang terdeteksi sebelum kontrak ditandatangani dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan transfer.
Pada akhirnya, investasi sport science tidak hanya berkaitan dengan kesehatan pemain, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap performa tim dan efisiensi pengelolaan klub dalam jangka panjang.
Gelar Piala Presiden 2026 dan catatan tidak terkalahkan dalam tujuh laga pramusim menjadi hasil awal dari proses tersebut. Namun, bagi Persebaya, tantangan sebenarnya baru dimulai ketika musim 2026/27 bergulir.
Yang menarik dari perjalanan Persebaya bukan hanya trofi yang berhasil diraih, melainkan fondasi yang sedang dibangun di belakangnya. Penganggaran, manajemen bisnis, pengelolaan sepak bola, serta sport science mulai ditempatkan dalam satu ekosistem klub.
Rensu menilai model tersebut dapat menjadi contoh bagi klub-klub lain di Indonesia. Persebaya dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan finansial owner, tetapi perlu membangun klub yang memiliki bisnis, sistem manajemen, serta sumber pendapatan yang mampu menopang keberlangsungan operasional.
Target berikutnya pun semakin besar. Persebaya memasuki periode menuju satu abad klub pada 2027. Momentum tersebut dapat menjadi kesempatan bagi Bajul Ijo untuk melengkapi fondasi pengelolaan profesional dengan prestasi di kompetisi resmi.
Dengan fondasi yang mulai dibangun sejak pramusim, Persebaya kini menghadapi ujian sebenarnya: membuktikan bahwa model pengelolaan yang lebih terukur mampu menghasilkan prestasi sekaligus menjaga klub tetap sehat dalam jangka panjang. (saf/iss)









