Menurut Rofik, CMJ Test dipilih karena gerakannya sangat merepresentasikan aktivitas utama dalam sepak bola, seperti berlari, berakselerasi, melompat, hingga melakukan perubahan arah.
“Dalam sepak bola, sebagian besar aktivitas fisik melibatkan anggota tubuh bagian bawah. Gerakan pada tes CMJ memiliki mekanisme yang cukup merepresentasikan tuntutan permainan, sehingga sangat relevan digunakan untuk mengukur kapasitas fisik pemain sepak bola,” katanya.
Tes tersebut dilakukan pada H+2 setelah pertandingan agar tim pelatih memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai respons tubuh pemain setelah menerima beban laga.
“Tes kali ini dilakukan pada H+2 setelah pertandingan, sehingga kami bisa melihat bagaimana respons fisik pemain setelah menjalani beban kompetisi. Hasilnya bisa meningkat atau menurun, tergantung kondisi masing-masing pemain. Dari situ kami membuat catatan dan rekomendasi yang kemudian menjadi bahan evaluasi bagi tim pelatih dan tim medis,” tutur Rofik.
Persebaya tidak memiliki banyak waktu sebelum kembali bertanding. Bajul Ijo akan melanjutkan persiapan menghadapi Piala Presiden 2026, di mana mereka tergabung di Grup B bersama Port FC (Thailand), PSMS Medan, dan Persija Jakarta. (saf/ipg)










