Selasa, 3 Agustus 2021

Anis Matta: Sumpah Palapa Bisa Jadi Spirit Akhiri Pembelahan Sosial dan Politik

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Anis Matta Ketua Partai Gelora. Foto : Faiz

Anis Matta Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menilai Sumpah Palapa yang digaungkan Gajah Mada Mahapati Kerajaan Majapahit, bisa menjadi spirit untuk mengakhiri pembelahan sosial dan politik yang terjadi di masyarakat.

Residu pembelahan hingga kini tidak kunjung usai, bahkan mulai menunjukkan peningkatan ekskalasinya jelang Pemilu 2024.

“Ada dua sumpah yang menginspirasi kami di Partai Gelora, pertama Sumpah Palapa dan kedua Sumpah Pemuda. Kedua sumpah ini menjadi ilham bagi para pendiri bangsa yang waktu itu ingin merumuskan identitas baru, bernama Indonesia,” kata Anis Matta saat memberikan pengantar diskusi Gelora Talk4 dengan tema ‘Pembelahan Politik di Jagat Media Sosial: Residu Pemilu yang Tak Kunjung Usai’, Rabu (23/6/2021)

Dalam diskusi tersebut, menghadirkan narasumber di antaranya Mahfuz Sidik Sekretaris Jenderal Partai Gelora, Guntur F. Prisanto peneliti komunikasi dan politik, Dyah Kartika Rini penggerak JASMEV dan Ari Saptono penggerak Relawan Ganti Presiden (RGP).

Anis mengatakan, Sumpah Palapa Gajah Mada tidak hanya menginspirasi Partai Gelora, tapi juga memberi ilham bagi Mohammad Yamin, tokoh pemuda untuk mempelopori Sumpah Pemuda.

“Itu sebabnya, Mohammad Yamin otak di balik Sumpah Pemuda menulis panjang tentang Gajah Mada yang bisa mengkonsolidasikan seluruh potensi dan bisa fokus menyelesaikan krisis sistemik yang terjadi saat itu,” katanya.

Karena itu, Sumpah Palapa Gajah Mada, lanjut Anis Matta, juga bisa menjadi tekad untuk melahirkan sumpah ketiga, yakni Sumpah Tekad Indonesia untuk keluar dan bangkit dari krisis, sehingga mampu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan lima besar dunia.

“Andaikata Gajah Mada dan para perintis Sumpah Pemuda masih ada, mereka semuanya akan ada dalam forum diskusi kita ini. Untuk melihat persoalan yang kita bahas, di mana kita tidak tahu arah sejarah yang sedang kita tuju, ada semacam kebingungan kolektif yang mendera para pemimpin kita saat ini,” kata Anis Matta berandai-andai.

Sementara Mahfuz Sidik Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia menilai apabila pembelahan sosial dan politik di masyarakat segera tidak diakhiri, maka bisa menyebabkan terjadinya fail state (negara gagal) dan berujung bubarnya negara.

“Pembelahan sosial dan politik yang terbiarkan, residunya akan semakin mengental dan dapat menyebabkan fail state, negara gagal. Di beberapa negara pembelahan menjadi pemicu negara bubar, sehingga harus ada solusi segera untuk mengakhiri,” kata Mahfuz.

Namun, Guntur F. Prisanto peneliti komunikasi dan politik berpendapat pembelahan sosial politik di media sosial (medsos) bukanlah cerminan realita sesungguhnya, hanya sekedar gambaran di dunia maya saja.

“Sebab pembelahan sosial adalah keniscayaan dalam politik, karena  penganut demokrasi liberal perlu mengindentifikasi secara tegas pilihannya. Parpol-lah yang bertanggungjawab untuk mencairkan politik identitas ini,” kata Guntur.

Hal senada diamini Dyah Kartika Rini, penggerak JASMEV. Dyah menilai bisa saja masyarakat tertentu hanya ingin menunjukkan pilihan dukungan dan politik di medsos saja, tetapi tidak dunia nyata.

“Boleh jadi dia amat garang di medsos, tetapi sangat berbeda di dunia nyata. Pembelahan sosial sebenarnya sudah dimulai dari Pilkada DKI 2012 lalu, jadi kalau dihitung sudah berlangsung sembilan tahun,” kata Dyah.

Sedangkan Ari Saptono penggerak Relawan Ganti Presiden menegaskan, pada titik tertentu politik identitàs Ini justru menguntungkan para calon kadindat independen seperti yang terjadi dalam Pilkada Serentak 2020 lalu, karena mereka dianggap masih bersih dan tidak terlibat konflik kepentingan selama ini.

“Lebih dari 50 persen calon independen dalam Pilkada menang seperti di Lampung dan beberapa kota di Kalimantan Timur. Masyarakat sudah apatis dan jenuh dengan partai politik, lalu memilih calon alternatif yang relatif masih murni,” kata Ari Saptono.(faz/dfn)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Antre Sejak Pagi Buta Demi Mendapat Vaksin

Kebakaran Lahan Kosong Darmo Permai

Antrean Vaksinasi di Grand City Surabaya

Antrean Vaksinasi di Terminal 2 Juanda

Surabaya
Selasa, 3 Agustus 2021
28o
Kurs