Persaingan kekuatan besar, konflik regional, proteksionisme perdagangan, ancaman siber, serta perkembangan kecerdasan artifisial menjadi sejumlah isu yang dapat memengaruhi kepentingan nasional.
Menurut Bamsoet, Indonesia perlu terus menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif sekaligus memperkuat hubungan dengan berbagai negara dan forum internasional, termasuk ASEAN dan BRICS. Hubungan dengan Amerika Serikat, China, negara-negara Eropa, Jepang, India, serta mitra strategis lainnya juga perlu dikelola secara konstruktif.
“Indonesia harus mampu menjaga kemandirian dalam menentukan sikap, tanpa menutup ruang kerja sama dengan negara mana pun. Setiap keputusan geopolitik perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap perdagangan, investasi, pertahanan, energi, dan kesejahteraan rakyat. Kepentingan nasional harus tetap menjadi pijakan utama,” tegasnya.
Dalam bidang hilirisasi dan transisi energi, Bamsoet berpandangan bahwa Indonesia harus mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui pengembangan industri yang lebih terintegrasi.
Hilirisasi, kata dia, semestinya tidak berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan, tetapi juga mendorong penguasaan teknologi, penguatan riset, peningkatan kualitas tenaga kerja, dan pengembangan industri turunan di dalam negeri.
NOW ON AIR SSFM 100

