“Kita hidup di zaman ketika aturan internasional yang telah membimbing kita selama beberapa dekade terancam, saat beberapa negara kuat tidak lagi mematuhi aturan-aturan ini dan dengan berani melanggarnya ketika menghalangi kepentingan kekuasaan mereka sendiri,” katanya.
Menurut laporan harian Suddeutsche Zeitung, Steinmeier menilai dinamika politik internasional saat ini semakin didominasi oleh pendekatan berbasis kekuatan, pola pikir menang-kalah (zero-sum thinking), serta meningkatnya konfrontasi antarnegara.
Kondisi tersebut, menurutnya, mengikis fondasi kerja sama internasional yang selama ini dibangun melalui berbagai mekanisme multilateral.
“Semangat kebrutalan dan kekejaman sedang melanda politik internasional,” tambah Steinmeier dilansir dari Antara pada Selasa (30/6/2026).
Meski demikian, Presiden Jerman itu menegaskan bahwa solusi atas berbagai krisis global bukanlah meninggalkan sistem multilateral. Sebaliknya, ia menilai PBB tetap menjadi pilar penting yang harus diperkuat melalui reformasi kelembagaan.
“Penarikan diri dari Perserikatan Bangsa-Bangsa akan menjadi tindakan yang picik dan fatal. Namun demikian, PBB harus berubah, harus menjadi lebih efisien dan efektif, buktikan bahwa badan ini dapat memberikan hasil yang lebih baik ketimbang para pemimpin otoriter dengan fantasi kemahakuasaan mereka,” katanya. (ant/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

