Selasa, 30 Juni 2026

Presiden Jerman Desak Reformasi PBB di Tengah Memanasnya Geopolitik Global

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Prabowo Subianto Presiden RI menyambut kedatangan Frank-Walter Steinmeier Presiden Republik Federal Jerman di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (15/6/2026). Foto: BPMI Setpres/Cahyo

Frank-Walter Steinmeier Presiden Jerman memperingatkan bahwa sistem tatanan dunia yang selama ini bertumpu pada hukum internasional tengah menghadapi ancaman serius.

Ia menilai meningkatnya politik kekuasaan dan melemahnya kepatuhan terhadap aturan internasional menjadi tantangan besar bagi stabilitas global.

Pernyataan tersebut disampaikan Steinmeier saat membuka Konferensi Keberlanjutan Hamburg pada Senin (29/6/2026) waktu setempat.

Dalam pidatonya, ia menyerukan perlunya komitmen baru dari komunitas internasional untuk memperkuat kerja sama multilateral sekaligus mendorong reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar lebih efektif menghadapi tantangan global.

Steinmeier mengatakan dunia kini memasuki fase ketika berbagai norma internasional yang selama puluhan tahun menjadi landasan hubungan antarnegara mulai dipertanyakan dan bahkan diabaikan oleh sejumlah negara besar.

“Kita hidup di zaman ketika aturan internasional yang telah membimbing kita selama beberapa dekade terancam, saat beberapa negara kuat tidak lagi mematuhi aturan-aturan ini dan dengan berani melanggarnya ketika menghalangi kepentingan kekuasaan mereka sendiri,” katanya.

Menurut laporan harian Suddeutsche Zeitung, Steinmeier menilai dinamika politik internasional saat ini semakin didominasi oleh pendekatan berbasis kekuatan, pola pikir menang-kalah (zero-sum thinking), serta meningkatnya konfrontasi antarnegara.

Kondisi tersebut, menurutnya, mengikis fondasi kerja sama internasional yang selama ini dibangun melalui berbagai mekanisme multilateral.

“Semangat kebrutalan dan kekejaman sedang melanda politik internasional,” tambah Steinmeier dilansir dari Antara pada Selasa (30/6/2026).

Meski demikian, Presiden Jerman itu menegaskan bahwa solusi atas berbagai krisis global bukanlah meninggalkan sistem multilateral. Sebaliknya, ia menilai PBB tetap menjadi pilar penting yang harus diperkuat melalui reformasi kelembagaan.

“Penarikan diri dari Perserikatan Bangsa-Bangsa akan menjadi tindakan yang picik dan fatal. Namun demikian, PBB harus berubah, harus menjadi lebih efisien dan efektif, buktikan bahwa badan ini dapat memberikan hasil yang lebih baik ketimbang para pemimpin otoriter dengan fantasi kemahakuasaan mereka,” katanya. (ant/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Selasa, 30 Juni 2026
28o
Kurs