Ia mengibaratkan transformasi ekonomi yang dijalankan pemerintah seperti mencabut duri yang tertancap di dalam daging.
“Transformasi ekonomi yang diusung Presiden Prabowo ibarat mencabut duri dalam daging. Mencabut duri tentu tidak nyaman. Ada rasa perih, bahkan sedikit pendarahan. Namun, selama duri itu tetap tertancap, luka tidak akan pernah benar-benar sembuh,” ujar Sultan.
Sultan menyebut sejumlah persoalan struktural masih menjadi “duri” yang menghambat daya saing ekonomi Indonesia.
Di antaranya ketergantungan terhadap impor, rendahnya nilai tambah sumber daya alam, praktik under invoicing, transfer pricing, inefisiensi, hingga berbagai hambatan lainnya.
“Duri itu adalah ketergantungan pada impor, rendahnya nilai tambah sumber daya alam, praktik under invoicing, transfer pricing, inefisiensi, dan berbagai hambatan yang menggerus daya saing nasional,” katanya.
Karena itu, Sultan menegaskan transformasi ekonomi membutuhkan keberanian pemerintah dalam mengambil keputusan yang tidak selalu mudah dan populer.

NOW ON AIR SSFM 100

