Selasa, 5 Juli 2022

Warga Kampung di Surabaya Sudah Lama Menanam Empon-Empon

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Warga di Nginden Jangkungan Surabaya yang menanam sendiri empon-empon. Foto: Humas Pemkot Surabaya

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya menyatakan, sebagian warga Surabaya sudah menanam tanaman obat keluarga (toga/empon-empon) sebelum merebaknya penyakit akibat virus corona (COVID-19).

Antin Kusmira Kasi Pengembangan Pertanian Perkotaan DKPP mengatakan, bibit tanaman toga seperti jahe, kunyit, temulawak, sampai sambiloto sudah lama diberikan kepada warga.

Tanaman itu, kata Antin, turun-temurun dipercaya untuk meningkatkan imunitas tubuh dari serangan virus. Penelitian Universitas Airlangga (Unair) menguatkan khasiat tanaman empon-empon itu.

“Dari bibit bantuan itu, warga kemudian membudidayakannya. Ada yang berupa di hamparan ada yang di media polybag. Macam-macam,” kata Antin dalam keterangan resmi Pemkot Surabaya, Sabtu (07/03/2020).

Menurutnya, budidaya tanaman herbal yang dilakukan masyarakat sudah berlangsung sejak lama. Bahkan, sebelum Virus Corona muncul beberapa perkampungan di Kota Pahlawan sudah menanam toga.

“Masyarakat sudah membudidayakan tanaman ini karena itu memang termasuk tanaman obat keluarga. Jadi sebelum ada virus corona pun mereka sudah menanam,” katanya.

Tidak hanya dimanfaatkan sendiri, hasil panen toga ini menurutnya juga diolah warga menjadi minuman herbal sampai diolah menjadi bubuk minuman instan yang bisa dijual untuk menambah penghasilan.

Salah satu kampung yang membudidayakan tanaman empon-empon ini adalah kampung RT 09, RW 05, Nginden Jangkungan Surabaya. Sudah lama warga menanam toga.

Erna Sri Wulandari Lurah Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo, Surabaya mengatakan, budidaya tanaman toga oleh warganya sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Mulai aktif lagi 2015 lalu.

Warga di sana memanfaatkan tanah rawa aset pemkot menjadi Taman Herbal. “Dulu banyak yang kena DB (demam berdarah). Sama warga dimanfaatkan untuk budidaya tanaman,” kata Erna.

Dia bilang, setidaknya ada 172 jenis tanaman herbal yang dibudidayakan warganya. Di antaranya jahe, kunyit, dan juga temulawak. “Taman Herbal (Kampung Herbal) ini sudah lama ada sebelum Virus Corona,” ujarnya.

Warga melakukan pembibitan secara swadaya di lahan itu dengan berbagi tugas satu dengan yang lain. Selain untuk produk minuman, hasil bibit tanaman herbal itu juga dijual.

“Banyak warga dari luar juga yang membeli bibit tanaman herbal di sini. Selain itu, hasil tanaman herbal ini juga diolah warga menjadi produk minuman, seperti sinom, temulawak dan dititip-titipkan ke warung-warung untuk dijual,” ungkap dia.

Lambat laun, ternyata banyak warga luar Surabaya yang tertarik untuk berkunjung ke Taman Herbal itu. Beberapa kali turis asing juga berkunjung untuk belajar pembibitan tanaman herbal.

Kini, Taman Herbal di Nginden Jangkungan diklaim telah menjadi daya tarik wisata. Apalagi warga sudah memanfaatkan sistem barcode supaya pengunjung bisa belajar berbagai jenis dan manfaat tanaman itu.

“Sementara ini ada 60 jenis tanaman yang bisa dicek menggunakan barcode. Dari barcode itu bisa diketahui mulai jenis tanaman, nama latin, manfaat tanaman hingga cara pengolahannya,” kata Erna.(den/tin/iss)

Berita Terkait

Surabaya
Selasa, 5 Juli 2022
31o
Kurs