Jumat, 3 Desember 2021

Kenali Faktor Risiko Penyakit Ginjal

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Hari Ginjal Sedunia. Grafis: Gana Suara Surabaya

Penyakit ginjal kronis adalah masalah kesehatan global yang jumlahnya terus meningkat, begitu juga Indonesia. Sehingga perlu untuk melakukan skrining sejak dini, apakah tubuh yang tampak sehat sudah pasti terbebas dari faktor risiko penyakit ginjal.

Apalagi, seperti yang disampaikan dr. Nunuk Mardiana, Sp.PD, KGH, Konsultan Ginjal dan Hipertensi RSU dr. Soetomo, banyak penyakit yang saat ini juga banyak mereka yang berada di usia muda.

“Sebetulnya dengan lifestyle yang ada, penyakit-penyakit yang dulu diderita (orang yang) lebih tua, sekarang bergeser ke yang lebih muda. Jadi mungkin lebih memperhatikan usia muda untuk tahu lebih dini,” kata dr. Nunuk kepada Radio Suara Surabaya dalam program Wawasan yang mengangkat tema Hari Ginjal Sedunia.

Ia mengatakan, penyakit ginjal kronis adalah penyakit yang muncul setelah serangkaian penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, kencing batu hingga auto imun. Saat itu terjadi, ginjal tidak mampu lagi menopang karena harus mengatur jalannya cairan.

Sebelum semua itu terjadi, penting untuk melakukan skrining sedari dini untuk mencegah atau memperlambat “perjalanan penyakit” menuju organ-organ vital seperti ginjal. Skrining bisa dilakukan dengan cara melakukan check up secara berkala, seperti tes tekanan darah dan gula darah.

Jika ternyata hasilnya menunjukkan kita memiliki faktor risiko, maka upaya pengendalian penyakit bisa dilakukan sejak awal.

“Setiap penyakit punya taget kendali dan itu harus dicapai dengan tata laksana pengobatan. Contoh hipertensi, kendalikan tekanan darah kita hingga 130/80 mmHg,” kata dr. Nunuk.

“Dengan obat-obatan dan lifestyle lebih baik, harapannya fluktuasi dari tensi tidak lebih cepat merusak organ target seperti ginjal,” lanjutnya.

Ia meluruskan, bahwa serangkaian obat-obatan penderita diabetes hingga ginjal tidak merusak organ seperti banyak info yang beredar. Malahan, obat-obat dengan resep dokter itu bertujuan untuk mencegah atau menunda terjadinya komplikasi.

Jika sampai organ mengalami kerusakan, maka itu tidak diakibatkan dari obat-obatan, namun dari penyakit itu sendiri.

Saat ditanya mengenai makanan atau minuman apa saja yang perlu dihindari, dr. Nunuk mengatakan secara umum tidak ada makanan dan minuman yang buruk bagi kesehatan. Namun, semuanya harus diukur berdasarkan kondisi dan kebutuhan tubuh secara seimbang.

Lifestyle yang sehat saja, misalnya kalau hipertensi hindari garam berlebih, perbanyak sayur dan buah-buahan. Kemudian jaga berat badan jangan sampai obesitas, tidur cukup, tidak merokok. Itu harusnya lifestyle yang dipupuk sejak awal,” imbuhnya.(tin/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Jumat, 3 Desember 2021
30o
Kurs