Minggu, 25 September 2022

Psikolog: Nikmati Momen Saat Ini Kunci Raih Kebahagiaan

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi orang sedang tertawa bahagia. Foto: Pexels

Kebahagiaan adalah tujuan hidup setiap orang. Ada banyak cara untuk meraih kebahagiaan, salah satu yang paling sederhana adalah dengan menikmati momen saat ini.

Hal itu disampaikan oleh Sri Juwita Kusumawardhani Psikolog sekaligus dosen di Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Jakarta

Being mindful. Menikmati momen saat ini adalah salah satu kunci bahagia,” kata Wita itu saat dihubungi Antara di Jakarta, Jumat (23/9/2022).

Menurutnya, jika seseorang terjebak dalam masa lalu, maka dia akan terus merasa tidak puas. Sementara jika terus dihantui bayangan akan masa depan, maka dia akan terus merasa cemas.

“Oleh karena itulah, seseorang harus berusaha fokus menikmati momen yang sedang terjadi agar bisa bahagia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wita mengatakan bahwa memahami esensi kebahagiaan bukan pada hal-hal yang sifatnya lahiriah atau duniawi semata. Uang tentu akan memberikan kenyamanan dan pilihan yang beragam, namun menurut dia jangan terlalu fokus pada seberapa banyak uang yang dimiliki karena kebahagiaan tidak diukur hanya dengan kemewahan.

“Contohnya berkumpul dengan keluarga baik di hotel bintang lima maupun di warung kaki lima, yang penting adalah seberapa erat dan hangat keluarga tersebut, bukan lokasinya,” ujar Wita.

Sebagai informasi, pada akhir 2021 Badan Pusat Statistik (BPS) telah meluncurkan Indeks Kebahagiaan Indonesia (IKI) yang diukur dari tiga aspek yaitu kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup. Hasilnya, Banten menjadi provinsi paling tidak bahagia dengan skor 68,08, diikuti Bengkulu dengan skor 69,74. Sementara itu, DKI Jakarta berada di peringkat delapan dengan skor 70,68.

Menurut Wita, jika dilihat dari ketiga aspek tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengukuran bersifat subyektif. Artinya, sangat mungkin jika standar bahagia atau tidak bahagianya dapat diinterpretasikan berbeda oleh orang lain.

Cara manusia menginterpretasikan suatu peristiwa pun, kata dia, sangat mempengaruhi bagaimana perasaan dan emosi di dalam diri. Misalnya saat menghadapi kemacetan, ada orang yang sudah mengantisipasi dan menerima situasi tersebut, namun ada pula orang yang stres dan marah-marah.

“Perbedaannya adalah dari bagaimana mereka memandang kemacetan tersebut. Jika kita sadar bahwa kita tidak bisa mengontrol kemacetan, yang bisa kita kontrol adalah perilaku diri sendiri seperti berangkat lebih awal. Maka kita tidak akan terlalu terbawa emosi dibanding ketika kita merasa seharusnya jalanan bisa sesuai dengan harapan ideal kita,” ujar Wita.

“Pasti ada waktunya kita mengalami peristiwa menyebalkan atau menyakitkan. Yang perlu kita jadikan mindset adalah seberapa sulit pun kondisi yang dihadapi maka akan selalu ada jalan keluar dan pada akhirnya akan selesai juga. Justru hal-hal pahit dalam hidup yang akan membuat kebahagiaan kita lebih bermakna,” pungkasnya.(ant/gat)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Terguling di Raya Kedamean Gresik

Truk Mogok di Mastrip arah Kedurus

Mobil Terbalik di Merr Surabaya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Surabaya
Minggu, 25 September 2022
28o
Kurs