Konsentrasi partikel di udara, lama paparan, serta komposisi mineral dan kimia abu turut memengaruhi dampaknya. Kondisi kesehatan seseorang juga menentukan tingkat kerentanan terhadap paparan.
Dalam jangka pendek, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, batuk, rasa tidak nyaman di dada, mengi hingga sesak napas. Abu juga dapat mengganggu kesehatan mata dan kulit.
Pada penderita asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau penyakit paru kronis lainnya, paparan abu vulkanik dapat memicu atau memperberat gejala.
Anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan penyakit paru atau kardiovaskular juga perlu lebih berhati-hati karena lebih rentan terhadap dampak partikel di udara.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika terjadi paparan abu vulkanik. Aktivitas fisik berat sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan frekuensi dan kedalaman napas sehingga jumlah partikel yang terhirup menjadi lebih banyak.

NOW ON AIR SSFM 100

