Selasa, 9 Juni 2026

Buku Bacaan Inggris untuk Anak Dinilai Mendesak

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Putri Alya Sidik penulis cilik bersama Seto Mulyadi dan guru-gurunya saat peluncuran buku di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2026). Foto: Faiz Fadjarudin suarasurabaya.net

Rendahnya tingkat kecakapan bahasa Inggris siswa Indonesia kembali menjadi perhatian kalangan pendidikan. Berdasarkan laporan English Proficiency Index (EPI) 2025, Indonesia berada di peringkat ke-80 dari 123 negara dengan skor 471 dan masuk kategori kecakapan rendah.

Di kawasan Asia, Indonesia menempati posisi ke-12 dan masih tertinggal dari sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina.

Fakta tersebut mengemuka dalam peluncuran tiga buku berbahasa Inggris karya Putri Alya Sidik, siswi Delima School Jakarta yang baru berusia sembilan tahun.

Ketiga buku yang tergabung dalam seri Diary of Alya itu berjudul My School is My Second Home, I Love Healthy Food, dan Learning Piano Makes Me Happy.

Wahyu Kusnadi Guru Bahasa Inggris Delima School sekaligus editor buku Alya menilai rendahnya kemampuan bahasa Inggris siswa Indonesia, khususnya di tingkat sekolah dasar, tidak terlepas dari kebijakan kurikulum yang selama bertahun-tahun tidak menjadikan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib.

“Pada Kurikulum 2013, bahasa Inggris diturunkan statusnya menjadi mata pelajaran pilihan. Akibatnya banyak sekolah dasar yang menghapus pelajaran ini karena keterbatasan tenaga pengajar. Di Kurikulum Merdeka 2025, bahasa Inggris kembali menjadi mata pelajaran pilihan menuju wajib dan ditargetkan diterapkan penuh pada tahun ajaran 2026/2027. Namun masa transisi ini masih menghadapi berbagai kendala,” ujar Wahyu dalam konferensi pers peluncuran buku Putri Alya Sidik di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2026).

Menurut pengajar yang telah mengajar bahasa Inggris selama 17 tahun tersebut, pemerintah perlu segera memperkuat ketersediaan guru bahasa Inggris yang memiliki kompetensi sesuai standar untuk jenjang sekolah dasar.

“Selain tenaga pengajar, penyediaan buku-buku bacaan berbahasa Inggris yang sesuai dengan kebutuhan kurikulum juga sangat penting. Saat ini harga buku bacaan berbahasa Inggris relatif mahal sehingga belum mudah diakses oleh semua sekolah,” katanya.
Peluncuran buku Alya sekaligus menambah daftar penulis cilik Indonesia yang menghasilkan karya dalam bahasa Inggris. Sebelumnya, sejumlah nama seperti Deliang Al-Farabi, Nadia Shafiana Rahma, dan Karinda Susanto juga telah menerbitkan buku berbahasa Inggris.

Ferris Affan Principal Delima School Jakarta mengatakan kemunculan penulis muda seperti Alya menunjukkan semakin berkembangnya budaya literasi bahasa Inggris di kalangan anak-anak Indonesia.

Menurutnya, fenomena tersebut didukung oleh tumbuhnya sekolah dwibahasa, kemudahan akses teknologi, serta meningkatnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya literasi sejak usia dini.

“Kemunculan penulis cilik berbahasa Inggris didorong oleh berkembangnya sekolah bilingual maupun internasional, akses media digital yang semakin luas, serta dukungan orang tua terhadap budaya membaca dan menulis sejak dini,” ujar Ferris.

Ia menambahkan, Delima School menerapkan penggunaan bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan berbahasa siswa.

“Kami mewajibkan seluruh siswa jenjang dasar menggunakan bahasa Inggris di sekolah, begitu juga para pendidiknya. Ini merupakan salah satu langkah untuk membantu meningkatkan kecakapan bahasa Inggris siswa sejak usia dini,” katanya.(faz/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Abraj Al Bait, Makkah Royal Clock Tower

Surabaya
Selasa, 9 Juni 2026
27o
Kurs