Ia menjelaskan, pemeriksaan kesehatan dapat membantu mendeteksi faktor risiko yang mungkin tidak disadari. Di antaranya riwayat penyakit jantung dalam keluarga, keluhan nyeri dada, jantung berdebar, hingga kondisi lain yang berpotensi membahayakan saat tubuh dipaksa bekerja terlalu berat.
Pemeriksaan yang bisa dilakukan antara lain elektrokardiogram atau EKG, USG jantung, hingga pemeriksaan darah. “Kita bisa EKG pasiennya, kita bisa evo, USG jantung atau periksa darah dan sebagainya untuk skrining. Kalau itu semua bagus, kita bisa mulai olahraga,” ujar Ade.
Ade juga menyarankan orang yang jarang berolahraga untuk memulai latihan fisik secara bertahap. Menurutnya, tubuh perlu beradaptasi sebelum menjalani olahraga dengan intensitas sedang hingga berat.
Ia mencontohkan, orang yang tidak pernah bersepeda kemudian langsung ikut rombongan bersepeda jarak jauh berisiko mengalami masalah jantung. “Contohnya enggak pernah naik sepeda, terus ikut peletonan, itu bahaya, bisa menyebabkan serangan jantung,” katanya.
Ade menjelaskan, risiko gangguan jantung saat olahraga juga bisa berbeda berdasarkan usia. Pada atlet atau orang yang terbiasa berolahraga dan berusia di bawah 35 tahun, penyebab kematian mendadak yang paling sering adalah gangguan irama jantung.

NOW ON AIR SSFM 100

