Memasuki cuaca panas di Indonesia, dokter spesialis neurologi menyarankan pasien heatstroke untuk segera mendapat penanganan pendinginan.
Brigjen TNI (Purn) dr Sholihul Muhibbi dokter spesialis neurologi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto mengingatkan, pada cuaca panas seperti ini, pada cuaca panas seperti ini suhu tubuh lebih mudah terjadi kegagalan sistem pengaturan.
“Pada cuaca panas seperti ini mempermudah terjadinya kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh atau termoregulasi yang dipicu oleh aktivitas yang berlebihan, kurang memadainya kecukupan asupan cairan dan tubuh yang tidak fit,” kata Sholihul, melansir Antara, Kamis (13/8/2026).
Setelah dibawa ke tempat sejuk, pakaian yang menghalangi tubuh untuk berkeringat juga perlu dilonggarkan.
Pendinginan dapat dilakukan dengan membasahi atau mengompres permukaan tubuh sambil dikipasi. Pemberian cairan melalui minuman hanya dapat dilakukan pada orang yang masih sadar penuh.
Sholihul mengingatkan seseorang dengan penurunan kesadaran tidak dipaksakan untuk minum dan perlu segera mendapat penanganan medis, termasuk pemberian cairan melalui infus serta pemantauan fungsi ginjal, hati, jantung, dan otak.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan terkait risiko heatstroke selama musim kemarau, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas dalam waktu lama di luar ruangan.
Dia mengatakan risiko tersebut juga dapat meningkat pada orang dengan gangguan sistem regulasi berkeringat, termasuk akibat penggunaan obat tertentu seperti antihistamin dan beta blocker.
Menurutnya, gejala akibat paparan panas dapat muncul secara bertahap. Pada kondisi ringan atau heat cramps, seseorang dapat mengalami rasa haus yang disertai keringat berlebihan dan kram otot.
Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi heat exhaustion atau kelelahan akibat panas yang ditandai peningkatan suhu tubuh, biasanya masih di bawah 40 derajat Celsius, nadi cepat tetapi lemah, pusing, sakit kepala, dan mual. Pada tahap ini, seseorang umumnya masih dalam kondisi sadar penuh.
Sementara itu, heatstroke merupakan kondisi yang lebih berat dengan suhu tubuh melebihi 40 derajat Celsius dan disertai gangguan fungsi otak.
“Terjadi juga gangguan fungsi otak, yaitu kesadaran yang menurun seperti meracau, kejang sampai koma, dan juga kegagalan fungsi ginjal, hati, serta gangguan pembekuan darah,” ujar Sholihul.
Sholihul menambahkan sejumlah kelompok lebih rentan mengalami heatstroke saat cuaca panas, antara lain lansia, orang yang menggunakan obat tertentu, orang dengan kegemukan, mereka yang melakukan aktivitas berat tanpa proses aklimatisasi, serta orang dengan kondisi kesehatan yang tidak optimal.(ant/kir/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

