Keberhasilan anak beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru tidak hanya bergantung pada kesiapan mereka, tetapi juga dukungan yang diberikan orang tua dan guru.
Kolaborasi kedua pihak dinilai menjadi kunci agar anak merasa aman, nyaman, dan percaya diri saat memulai tahun ajaran baru.
Vera Itabiliana Hadiwidjojo psikolog anak dan remaja mengatakan, komunikasi yang konsisten antara rumah dan sekolah sangat penting untuk membantu proses adaptasi anak.
“Anak membutuhkan pesan, respons atau perlakuan yang konsisten dari rumah maupun sekolah. Komunikasi sebaiknya berlangsung dua arah, terbuka dan tidak hanya dilakukan saat muncul masalah,” kata Vera dilansir dari Antara pada Selasa (14/7/2026).
Ia menjelaskan, persiapan memasuki sekolah baru sebaiknya dilakukan secara bertahap, bukan hanya sehari sebelum kegiatan belajar dimulai.
Menurut Vera, orang tua perlu mulai mengembalikan rutinitas harian anak, seperti jadwal tidur, bangun pagi, makan, mandi, dan belajar setidaknya satu minggu sebelum hari pertama sekolah.
Selain itu, anak juga perlu dikenalkan dengan lingkungan sekolah, rute perjalanan, serta perlengkapan yang harus dipersiapkan agar mereka lebih siap menghadapi hari pertama.
“Anak perlu diberi gambaran mengenai kegiatan sehari-hari di sekolah serta dilatih untuk mandiri, seperti memakai pakaian sendiri, menyiapkan tas, menggunakan toilet, menjaga barang, dan meminta bantuan ketika diperlukan,” ujarnya.
Vera juga mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan perpisahan yang positif saat mengantar anak ke sekolah. Menurutnya, orang tua sebaiknya berpamitan dengan hangat, tetapi tidak berlama-lama karena justru dapat memicu kecemasan anak.
“Ciptakan ritual perpisahan yang singkat, hangat, dan konsisten. Orang tua tidak boleh pergi diam-diam tanpa pamit, tapi juga tidak memperpanjang saat perpisahan karena merasa tidak tega atau mengkhawatirkan anak,” katanya.
Ia menambahkan, orang tua juga perlu membangun ketahanan mental anak dengan memberi kesempatan untuk menyelesaikan tantangan-tantangan kecil secara mandiri.
Langkah tersebut dapat meningkatkan rasa percaya diri sekaligus kemampuan anak menghadapi situasi baru.
Selain peran keluarga, Vera menilai guru memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan suasana sekolah yang ramah bagi peserta didik baru.
Program orientasi sebaiknya dirancang agar anak merasa diterima, aman, dan mengetahui kepada siapa mereka bisa meminta bantuan.
“Mengakui perasaan anak, misalnya dengan mengatakan, ‘kamu boleh merasa takut karena ini tempat baru, tetapi kamu tidak sendirian, ada guru dan teman yang akan membantumu’,” jelas Vera.
Abdul Mu’ti Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sebelumnya menyampaikan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027 dirancang untuk menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik baru.
“MPLS dilaksanakan dengan pendekatan yang menggembirakan, pendekatan yang menghadirkan rasa bahwa semua orang terlibat, dan semuanya aman serta nyaman,” kata Abdul Mu’ti. (ant/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

